Cerita Sedih Penuh dengan Cinta Sepenggal Kisah Rumit

Ideparokie.com - Ceerita sedih yang mengandung cinta dan air mata ini bisa juga menjadi inspirasi buat anda, kisah cinta dengan sentuhan cinta dan air mata ini begitu dalan dalam kisahnya samapi cinta yang dia puja dan dia abadikan sampai pada hembusan napas terakhir, dan untuk lebih jelasnya Cerita Sedih Penuh dengan Cinta Sepenggal Kisah Rumit silahkan simak kisahnya berikut ini :
Cerita Sedih Penuh dengan Cinta Sepenggal Kisah Rumit

Cerita Sedih Sepenggal Kisah Rumit

Kami harus pergi. Kami harus menyelamatkan cinta kami yang sebentar lagi akan dibantai oleh manusia-manusia tak berhati. Kami berlari di bawah rintikan salju yang mengganas sambil bergandengan, kini kami sama sekali tak peduli seberapa bahayanya posisi kami saat ini. Butiran putih melayang-melayang di udara. Aku terduduk lemas sembari memeluk tubuhku. Sial! aku tidak punya persiapan apa-apa saat ke luar apertemen pagi tadi, dan sekarang Kyoto sudah ditutupi oleh salju desember tetapi aku malah takut untuk beranjak dari tempatku. Sesekali aku mengusap telapak tanganku berharap ada sedikit nuansa hangat yang akan tercipta dan memang ada walau hanya sedikit. Aku menyelipkan sapu tangan merah ke dalam saku jacket tipisku.

Aku bisa mati kedinginan. Mengapa aku bisa sebodoh ini? aku hanya membawa kamera saku, sebuah note kecil, dan sapu tangan, Itu saja. Aku tidak membawa sarung tangan atau setidaknya membawa sebuah syal, bahkan ponsel saja terlupakan.
“Hey, sedang apa?” sapaan lembut itu dari seorang gadis berjubah rajut tebal yang tampak sangat hangat di tubuhnya. Gadis itu sedang memayungiku dengan sebuah payung klasik sembari tersenyum hangat sehangat jubah saljunya.
“Aku sedang duduk.” kataku hampir seperti gumaman. Aku sedang malas bercuap-cuap saat ini. Ya, tentu saja karena saat ini bibirku bergetar karena kedinginan.
“Kamu sudah tidak waras? udara Kyoto sedang bersalju,” ujarnya dengan nada suara sedikit menandakan kalau dia begitu prihatin dengan keputusan bodohku.

Aku menengadah ke arah gadis yang memayungiku, wajah gadis itu tampak memucat -mungkin pengaruh udara dingin sialan ini. Bibirnya yang memerah melukiskan sebuah senyuman manis untukku. Akhirnya aku terpaksa berdiri dan berlindung di bawah pohon yang hanya memiliki ranting-ranting tanpa daun sehelai pun dan pastinya berkat payung milik gadis manis inilah aku berhasil terhindar dari ganasnya salju yang menghujami Kyoto.

“Kenapa kamu di sini?” pertanyaan itu mengudara setelah 8 menit kami terdiam. Gadis ini apa sedang berpura-pura ramah pada lelaki malang sepertiku? tapi tunggu, lagi-lagi senyuman indah nan manisnya terlukis lagi di kedua sudut bibirnya, membuat aku percaya bahwa ia sedang melakukan sesuatu hal yang tulus.
“Aku hanya ingin medapat gambar baru sudut-sudut kota ini.” jawabku singkat sembari mengelus-elus telapak tanganku. Tiba-tiba tangan gadis yang terasa sangat lembut itu meraih tangan kiriku dan meletakan sehelai kain perca ke dalam genggaman tangaku, lalu ia mendorong kembali tanganku.

Ini sarung tangan rajut yang sama seperti jubah saljunya. Aku menatapnya, ia hanya tersenyum sebentar lalu perlahan mengulurkan telapak tangannya menyentuh salju yang menguhami payung kami. Aku rasa ia sangat menikmati detik ini -dimana salju berjatuhan di telapak tanganya. Hm, harusnya akulah yang pantas seperti itu. Aku adalah seorang asing yang mencari hidup di Kyoto dan aku sangat mengimpikan musim salju ini. Tetapi mengapa dia -yang jelas terlihat dari fisiknya adalah warga asli Ky

“Untuk aku?” aku bertanya dengan mimik wajah aneh. Gadis yang entah bernama siapa itu, menoleh sebentar lalu mengangguk lalu kembali pada aktivitasnya -menyentuh salju.
“Kamu berasal dari negara mana?” tanyanya saat aku sedang memakai sarunga tangannya, aku mengangkat kepala menatapnya dari dekat, lagi-lagi ia tersenyum.
“Indonesia.”
“Oh, aku pergi dulu. Aku sudah telat. Sayonara.” belum sempat aku merespon perkataannya, gadis itu sudah berlari di antara salju tanpa payung! Ya. tentu saja karena payungnya kini berada di tanganku -dalam ngengamanku.

“Hey, siapa namamu?” teriakku sekencang mungkin namun percuma saja, karena kini tubuhnya tak terlihat lagi. Aku mendesah kecewa lalu dengan marah ku buang payung klasik miliknya ke tanah bersalju.
“Arrrrgh!” aku mulai teriak seperti orang kesurupan tetapi segera berhenti diakibatkan oleh sebuah tulisan yang ku dapati di balik sarung tangan yang aku pakai. Narita Zukumahi.
“Jadi namanya Narita,” gumamku merasa senang. Lalu dengan gerakan cepat aku mengambil payung dan berjalan menjauhi tempat favoritku dikala aku ingin mendapatkan gambar indah untuk koleksiku di laptop nanti.
Gadis manis, ke mana aku bisa menemuimu?

Aku melirik dia yang berlari dengan penuh tenaga, di pipinya mengalir dengan deras butiran kristal bening yang tak pernah ku lihat. Jemarinya kaku dalam genggamanku, telapak tangan kanannya mungkin kini telah memutih karena tangan itu tak dilindungi sarung tangan. Aku tidak ingin kebodohanku yang lalu terulang lagi. Ku cegah langkahnya sejenak, melepas sarung tangan miliknya dulu alu segera menyelipkan pada telapak tangannya yang kosong.
“Tolong jangan lepaskan peganganku. Tidak akan ku biarkan kau kedinginan.” bisikku di telinganya. Ku dengar ia terisak pelan.

Ku ketuk pelan meja kaca di hadapanku. Kursi panas yang ku duduki semakin terasa panas. Aku mulai merasa bosan tetapi mengapa orang di hadapanku ini tak juga memberikan reaksi berarti? dia malah hanya terus membolak-balik buku tebal milikku itu. Oke hari ini aku membawa novelku pada penerbit paling ternama di Kyoto, aku memang sudah memiliki kontrak khusus tetapi aku tentu saja bukanlah penulis spesial yang pantas dijadikan raja di sini. Aku tetap dibuat capai menunggu pemeriksaan atas novelku, menahan cacing-cacing yang sedari tadi melakukan Shuffel di perutku, menahan dingin rungan full ac plus dingin asli dari salju di luar sana.

“Aku menulisnya dalam dua bahasa. Yang pertama dalam bahasa Indonesia dan yang kedua dalam bahasa…” sialan orang ini. Umpatku dalam hati. Pria berperut seperti karung beras 50 kg di indonesia ini memotong kata-kataku.
“Aku tahu, Nakatsue. Kau tak perlu khawatir remaja-remaja di sini telah menunggu karyamu.” timpalnya sembari menutup novelku dengan wajah 100 persen menunjukkan dia sedang bahagia.
Aku mengerut kening bingung dengan kalimatnya barusan. Pria di hadapanku itu tersenyum memperlihatkan giginya yang tumbuh tak teratur. Palsu! itu senyuman palsu kan?
“Aku pernah bercerita tentang pendidikan di Kyoto ini padamu kan?” tanyanya sembari mengurut dagunya tampak berpikir keras.
“I…”
Sial! lagi-lagi ia menimpali perkataanku. Ini sukses membuatku benar-benar ingin terbang ke indonesia saat ini juga. Gila!

“Pokoknya aku sudah cerita. Di setiap sekolah mulai mempelajari bahasa Indonesia dan hampir sebagian besar orang Kyoto sudah mahir berbahasa Indonesia,” katanya.
“Dan percetakan novelmu sebentar lagi akan diproses. Aku selaku editormu setuju kalau novelmu dicetak dalam dua bahasa -Jepang dan Indonesia, kalau penjualannya bagus maka akan dicetak ke dalam bahasa inggris dan Thailand.”
Aku takjub. Kenapa seperti ini? apa tulisanku begitu bagus?
“Oke, sekarang kau boleh makan siang. Takashi sedang menuggumu di lantai dasar untuk makan. Ayo sana, aku masih ingin membaca novelmu.” serunya meninggi seakan dia tidak ingin lagi melihat wajahku di sini.

Aku tertawa kecil padanya lalu segera menunduk memberikan salam perpisahan pada editorku yang ternyata sangat baik. Ia memberikan jempolnya ke arahku lalu kembali menengelamkan kepala ke dalam buku tebal berisikan naskah novelku. Aku teringat sesuatu. Dan segera berbalik hendak bertanya padanya.
“Kau kenal Narita?” tanyaku dengan posisi badan menyamping.
Ku lihat editorku yang bernama lengkap Kisihiro Jajo sedikit mengangkat kepala dari naskahku, ia memandangiku dengan kening berkerut.
Katanya, “Narita? di Kyoto hanya ada seorang bernama Narita.” katanya pelan.
“Benarkah? jadi kau kenal pada gadis manis itu?” tanyaku dengan tawa meledak.
“Ya, tentu saja. Gadis manis? semua orang juga menyebutnya seperti itu.”
“Semua orang? seterkenal itukah gadis manis itu?”
“Iya. kau kelihatan bingung. Yang kau maksud Narita Zukumahi kan? atau aku salah?”
“Tidak. Kau tidak salah.” kataku sembari menganguk ke arahnya.

Lalu tiba-tiba wajahnya memucat, naskah di hadapannya terjatuh ke atas meja, lalu ia melipat kedua tangannya di atas naskah sembari memandangku.
“ke sini sebentar Naka.” panggil Kisihiro. Aku berjalan cepat dan kembali duduk di bangku panas tadi. Tiba-tiba wajah lelaki itu mendekat lalu ia membisikkan sesuatu yang berhasil menyita alam kesadaranku. Aku terbengong-bengong seperti angksa saja.
“Oh ya, kau tidak boleh memanggilku hanya dengan nama, kau harus memanggilku Paman. Mengerti Naka?”
Aku mengangguk dengan tatapan dan otak kosong.

Kami kembali berlari tanpa sedikit pun mencoba berbalik melihat kembali jejak kaki kami, dengan air mata yang menemani langkah kaku kami, berharap kalau berhenti nanti bahagia itu akan menjemput. Kami memang berlari tanpa tahu arah, entah kini kami berada di barat atau selatan kami tak tahu pasti. Namun aku dan gadis di sampingku ini tahu yaitu ‘Kami punya tempat tujuan’.

Kami berhenti berlari. Kini kami berdiri temapt di tempat itu. Tujuan akhir kami. Kami saling berpandangan dan tanpa kesepakatan terlebih dahulu, masing-masing dari kami mematahkan ranting pohon itu dan mulai menggaris tumpukan salju, masing-masing dari arah berlawanan pula. Kini tumpukan itu sudah melambangkan LOVE. Aku menariknya ke dalam pelukanku. Tangisnya pecah sudah. Tubuhnya bergetar hebat. Tetapi ia masih ingin melanjutkan perjalanan ini bersamaku. Ku cium keningnya sembari memejamkan mata. Air mata yang sedari tadi ku hambat agar tak menyeruak kini mengalir dengan deras di kedua pipiku. Air mata suci yang ku keluarkan mengenai hidung mungil gadis yang sangat ku cintai ini.

“Ciuman terakhirku.” kataku sumbang sambil menunduk meratapi nasibku sendiri. Tetapi jemari lentiknya yang memakai sarung tangannya dulu itu merampas daguku, menengadahkannya agar melihat ke arahnya.
“Tidak, sayang,” gumamnya mengeleng. “Kau tetap akan menciumku saat nirwana menjemput kita nanti.” lanjutnya kembali memelukku dengan haru.
“Kau masih dibutuhkan di Kyoto, Narita.” kataku melemas.
“Aku sudah tidak peduli lagi, Naka. Aku memang sangat mencintai Kyoto tetapi aku juga tidak mungkin terus-terusan berkorban untuk Kyoto. Aku harus memikirkan diriku juga -cintaku padamu. Aku tidak peduli akan mahkota, kedudukan, uang, martabat dan segalanya. Aku hanya peduli pada kita. Karena aku sudah capai tersenyum palsu pada dunia, Naka.” isaknya.
“Aku tidak akan menyesali apapun. Meskipun kita akan berakhir seperti ini namun cinta kita akan menghidupi Kyoto dan dunia ini. Cinta kita akan membuka hati para bangsawan terpandang, terhormat dan keji itu.” umpatnya dengan penuh emosi. Aku segera memdekap bibirnya dengan telunjukku.
“Arigatou gosaimazu.”

Dan kami pun merebahkan tubuh kami di atas tumpukan es yang kami lukiskan LOVE itu. Walau rintikan salju semakin menggila namun lukisan itu tak juga menghilang. Ku genggam jemarinya. Kami saling memandang. Kini tak ada lagi payung seperti pertama kali kami bertemu. Hanya ada jubah salju yang sudah dipenuhi salju, sarung tangan lusuh yang membalut telapak tangan kami, dan isak tangis yang mengudara. Tetapi ada yang terasa berbeda di sini. Ya, aku merasakan cinta sejati itu sedang mengelilingi kami, para Malaikat Cinta bernyanyi seakan benar-benar akan menjemput kami.

Wajahnya tampak memutih seperti butiran salju yang turun menghujami tubuh kami. Rambut kami bahkan seluruh tubuh kami telah ditutupi salju, kami seakan telah terkubur di sini. Tetapi garis itu tidak lenyap atau sekiranya ikut tenggelam bersama kami, garis itu malah makin menegas seakan ingin menjelaskan bahwa Tuhan memang menakdirkan kami bersama. Kami menangis lagi. Aku berhasil menjadikan kisah cintaku sangat indah, mengalahkan kisah cinta Jack dan Rose. Mengalahkan keabadian cinta Edward dan Bella.

Dan kini aku mampu melihat Malaikat maut itu menuju ke arah kami. Dengan sayapnya yang berwarna hitam bergerlap butiran bintang. Malaikat itu terbang mendekat. Cepat. Makin cepat. Dan tambah cepat. Sangat cepat. Dan akhirnya berhasil membawa jiwa kami meninggalkan tubuh kami yang terkubur di antara tumpukan salju yang berhasil menguburkan jejak cinta kami tetap tidak akan pernah hilang. Karena garis LOVE itu tidak juga hilang.

Hal terakhir yang aku ingat adalah suara-suara kain sutra bergesekkan di antara tubuh kami. Tangisan memekik, samurai jatuh, serta suara umpatan yang membelah cakrawala. Dan itu adalah penyesalan terbodoh para Selir dan Raja Kyoto. Selesai
Karangan: Bunga Salju

Demikian artikel tentang Cerita Sedih Penuh dengan Cinta Sepenggal Kisah Rumit yang sempat kami berikan pada kesempatan ini semoga terhibur. jangan lupa baca juga Cerita Sedih kami Berikut ini :