Cerita Sedih Penuh Dengan Cinta Sesal Yang Terlambat

Ideparokie.com - Cerita sedih ini mengisahkan tentang seorang gadis yang cintanya disiasiakan oleh seorang pria namu suatu ketika peria itu datang dan menawrkan cinta indah namun apa daya semuanya sudah terlambat. dan untuk lebih jelasnya silahkan simak saja Cerita Sedih Penuh Dengan Cinta Sesal Yang Terlambat berikut ini :

Di tempat yang tak asing aku akan kembali menginjakkan kaki. Beberapa hari lagi aku kan menemui wanita yang pernah kubuat terluka. Wanita yang tak pernah kutemui selama empat tahun di Kalimantan.
Cerita Sedih Penuh Dengan Cinta Sesal Yang Terlambat
Cerita Sedih Penuh Dengan Cinta Sesal Yang Terlambat
Aku Seno. Aku asli orang jawa namun ikut orangtua transmigrasi ke Kalimantan. Tiket menuju Jogja sudah di tangan. Tinggal menunggu hari sebuah kapal akan membawaku mengarungi laut lepas. Jogja itu candu, Jogja itu mampu menyihir siapapun yang pernah ke sana untuk kembali lagi. Jogja itu istimewa, seistimewa semua yang ada di dalamnya dan akan kutebus kesalahanku kepada seseorang yang telah kusakiti.

“Hati-hati le. Jaga diri baik-baik,” senyum paling teduh dari Ibuku yang pasti akan aku rindukan turut menghantarku ke pelabuhan.
“Mas bawa oleh-oleh yang banyak ya kalau pulang.” Ah si bungsu. Pasti semua akan aku rindukan meski hanya beberapa hari berada di Jogja.

Aku sudah berada di atas kapal. Selama di perjalanan, aku membayangkan hal-hal manis yang dulu pernah kulalui bersama Rosa. Ia wanita yang kutinggalkan itu bernama Rosa. Entah mengapa dulu aku tak pernah bisa sepenuh hati menyayanginya.

Empat tahun lalu aku mengira dia hanyalah wanita manja sama seperti yang lain setiap waktu ingin diperhatikan. Senja perlahan berganti malam ketika aku berusaha mengingat wajah Rosa. Ternyata semua masih tertata rapi dalam sistem memori otakku.

“Temukan orang yang sekiranya kamu butuhkan bukan orang yang kamu inginkan dan jika kamu beruntung mungkin kamu akan mendapatkan orang yang kamu inginkan dan kamu butuhkan Mas.” Itu percakapan terakhir dan tatap muka yang terakhir dengan Rosa.

Ternyata malam benar-benar telah larut ketika aku masih senang dengan dunia anganku. Dunia yang mengajakku terus mengingat Rosa. Aku harus mengistirahatkan badanku agar tak terlalu lelah jika nanti aku sampai di tanah jawa, ya di Jogja. Mungkin aku sangat lelah sehingga aku tak menyadari bahwa aku tertidur. Sehari semalam sudah aku berada di kapal ini, mengarungi lautan di antara pulau kalimantan dan pulau jawa.

Perjalananku masih panjang. Turun dari kapal harus mencari travel untuk melanjutkan perjalanan dari pelabuhan menuju Jogja. Perjalanan yang sangat melelahkan mungkin namun semoga hasilnya seperti yang kuinginkan. Aku ingin meminta maaf kepadanya dan meminta dia kembali. Dermaga pelabuhan telah nampak di depan mata. Riuh ramai orang juga kelihatan. Aku sudah berada di tanah jawa. Tidak lupa kuhubungi Rosa bahwa aku sudah sampai. Kuminta agar ia meluangkan waktu untukku.

Perjalanan kurang lebih empat jam telah kutempuh. Bisa kurasakan atmosfer kota Jogja yang benar-benar membuat setiap orang yang pernah ke sini ingin kembali lagi. Setelah beberapa jam istirahat aku memutuskan untuk langsung bertemu dengan Rosa. Dia tak keberatan. Kuberitahu tempat di mana kita akan bertemu. Semoga ini sesuai dengan harapanku.

Kurapikan kemeja yang kukenakan dan tak ingin terlihat berantakan jika bertemu dengan Rosa. Kini aku telah duduk di meja sebuah tempat makan favorit kami.

“Mas, apa kabar?” aku bisa merasakan suara itu dari belakang. Ada suara yang tak asing, suara yang kurindukan menyapaku.
“Rosa? Kabar baik. Silahkan duduk.”
“Ya mas terimakasih.” Ia menyunggingkan senyum yang selama ini benar-benar aku rindu.


Dia ternyata tak banyak berubah. Hanya mungkin ia kini menjadi lebih dewasa penampilannya. Bukan wanita sembilan belas tahun yang dulu kukira manja. Ada raut wajah canggung di antara kami. Mungkin karena selama empat tahun tanpa komunikasi. Ya, sama sekali tak ada komunikasi selama empat tahun sehingga aku tak tahu kabar dia yang sebenarnya. Baru beberapa bulan aku mulai menghubunginya kembali.

“Sampai di sini jam berapa mas? Lalu ibu dan bapak bagaimana kabarnya?” ini yang tak pernah kudapat dari wanita lain, begitu perhatian kepada keluargaku.
“Tadi sore Sa sekitar jam tiga, ibu-bapak alhamdulillah sehat. Kamu sibuk apa sekarang?” perlahan-lahan suasana mencair dan aku terus mengamati wajahnya yang sangat teduh.
“Syukurlah Mas. Sekarang aku usaha modist sesuai cita-citaku dulu dan baru melamar di sebuah perusahaan,” tambahnya.

Ya Tuhan wanita yang dulu kumaki dan kuduga manja kini telah menjadi wanita yang dewasa dan telah berhasil mewujudkan mimpinya dulu.

“Wah kamu hebat Sa, sekarang. Aku sekarang menjadi guru di Kalimantan guru SMP yang dulu pernah kuceritakan.” aku turut menceritakan pengalamanku agar suasana semakin akrab.

Namun nampaknya percuma karena suasana menjadi kaku lagi ketika tak ada balasan dari Rosa. Terdengar ujung kuku tangan mengetuk-ngetuk meja. Kuku Rosa. Entah mengapa seperti ada yang ingin ia ungkapkan. Tapi aku tak berani bertanya.

“Hmm…” Hembusan napasku mungkin terdengar.
“Kekasihmu sekarang siapa Sa?” Aku beranikan diri untuk memulai percakapan yang lebih akrab lagi. Dia hanya diam. Kuraih kedua tangannya.

“Sa, maukah kamu memaafkan kesalahanku dan kembali bersamaku?” kataku lagi. Kuamati gerak-gerik wajahnya yang ingin meluapkan sesuatu yang selama ini ia pendam.
“Setelah semua perlakuanmu, setelah kamu menyakiti aku dan semua rasa sakit yang kamu tinggal semudah ini kamu memintaku kembali? Katamu dulu aku wanita manja, katamu aku hanya anak kecil yang masih suka bergantung kepada orangtua.”

Nada bicaranya naik, air matanya mengalir dari pelupuk matanya. Aku dibom pertanyaan-pertanyaan yang tak mungkin kujawab dalam keadaan seperti itu. Mungkin ini rasa sakit yang selama ini ia simpan dan tak pernah ia ungkap kepadaku.

“Tidak semua wanita itu manja mas,” katanya sekarang emansipasi wanita. “Tak semua wanita juga terlalu bergantung kepada laki-laki. Jika semua wanita manja tidak akan ada presiden perempuan, tidak akan ada guru perempuan, dokter perempuan dan lain-lain. Perempuan hanya akan duduk manis berdandan di rumah dan bergantung kepada suami.” Nada bicaranya kian naik. Air matanya juga mulai berderai. Ternyata rasa sakitnya benar-benar membekas. Rasa sesalku juga kian menjadi-jadi.
“Sebulan lagi aku akan menikah mas. Aku menyayangimu namun aku lebih menyayangi calon suamiku.”

Rasanya beribu-ribu panah menusuk tepat di dadaku. Harapanku tak sesuai kenyataan. Dia pergi dan aku harus melihat dia dengan yang lain. Dilepaskan tangannya dari genggaman tanganku.

“Apa tidak ada kesempatan kedua untukku?”
“Untuk kembali lagi mungkin sudah terlambat Mas. Tapi sungguh setulus hati aku sudah memaafkanmu. Maaf aku mungkin terlalu lelah selama empat tahun menunggumu yang tanpa kabar.” mata kami masih bertatapan.
“Maafkan aku harus memaksamu merasakan apa yang dulu aku rasakan. Ini bukan kemauanku mas.”

Dia meninggalkanku di meja kami duduk berdua beberapa menit. Pandanganku tak lepas dari punggungnya. Kini ia tak nampak dari pandangan. Mungkin dia sangat kecewa. Betapa aku sangat menyia-nyiakannya. Betapa mata hatiku telah buta bahwa di depanku ada orang yang setulus hati menyayangiku.

Jogja kini terasa dingin. Harapanku tak berbuah kenyataan. Semuanya mungkin terasa sia-sia namun aku mendapatkan sebuah pelajaran bahwa jangan mudah menyia-nyiakan apapun yang kita hadapi entah itu diri kita sendiri, kehidupan, orangtua maupun hal yang paling kecil yaitu cinta. Tak akan berlama-lama aku berada di sini karena telah kudapatkan jawabannya.

“Terimakasih untuk semua kebaikanmu, Sa. Semoga kamu bahagia dengan kehidupanmu yang sekarang,” ucapku dalam hati.

Mungkin semuanya tak akan bisa kembali. Sesal juga tak akan berguna. Terpuruk juga untuk apa. Bukankah hidup harus terus berjalan? Tak hanya cinta yang kita pikirkan. Tak akan kubiarkan hidupku berjalan di tempat. Yang kutahu Rosa, wanita yang telah kusakiti sekarang sudah berada dengan orang yang tepat. Jika aku terus menyesal mungkin sesalku juga sudah sangat terlambat.

Oleh : Anik Aniswanti

Demikian Cerita Sedih Penuh Dengan Cinta Sesal Yang Terlambat yang sempat kami bagikan pada kesempatan ini dan jangan lupa baca juga :