Cerita Lucu Abu Nawas : Pengemis, Adu Ketangkasan, Buah Arbei, Bintang di Langit, 6 Ekor Lembu, Harimau Berjenggot, Menteri Zalim, Kena Tipu dan Pencuri

Ideparokie.com - Melalui kesempatan ini saya ingin berbagi beberapa Cerita Lucu Abu Nawas, namun sebelum kita lanjut ke Cerita Lucu Abu Nawas alangkah kita kenal dulu siapa sebenarnya Abu Nawa, supaya anda bisa dengan puas menikmati cerita cerita menggelitik dari beliau. Untuk itu silahkan simak artikel kami Cerita Lucu Abu Nawas : Pengemis, Adu Ketangkasan, Buah Arbei, Bintang di Langit, 6 Ekor Lembu, Harimau Berjenggot, Menteri Zalim, Kena Tipu dan Pencuri berikut ini :
Cerita Lucu Abu  Pengemis, Adu Ketangkasan, Buah Arbei, Bintang di Langit, 6 Ekor Lembu, Harimau Berjenggot, Menteri Zalim, Kena Tipu dan Pencuri
Cerita Lucu Abu  Pengemis, Adu Ketangkasan, Buah Arbei, Bintang di Langit, 6 Ekor Lembu, Harimau Berjenggot, Menteri Zalim, Kena Tipu dan Pencuri

Cerita Lucu Abu Nawas

Abu Nawas adalah seorang tokoh yang sangat disenangi dan dihormati dari kalangan mayarakat kecil sampai dengan golongan pejabat, hal itulah yang membuat namanya sangat terkenal dan dikagumi, untuk itu silahkan simak kisahnya berikut ini :

Berikut ini Biografi Abunawas

Nama asli Abu Nawas, adalah Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami. Dia dilahirkan pada 145 H (747 M ) di kota Ahvaz di negeri Persia (Iran sekarang), dengan darah dari ayah Arab dan ibu Persia mengalir di tubuhnya. Abu Nawas merupakan seorang pujangga Arab dan dianggap sebagai salah satu penyair terbesar sastra Arab klasik. Abu Nawas juga muncul beberapa kali dalam kisah Seribu Satu Malam. Ayahnya, Hani al-Hakam, merupakan anggota legiun militer Marwan II. Sementara ibunya bernama Jalban, wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol. Sejak kecil ia sudah yatim. Sang ibu kemudian membawanya ke Bashrah, Irak. Di kota inilah Abu Nawas belajar berbagai ilmu pengetahuan.

Masa mudanya penuh perilaku kontroversial yang membuat Abu Nawas tampil sebagai tokoh yang unik dalam khazanah sastra Arab Islam. Meski begitu, sajak-sajaknya juga sarat dengan nilai sprirtual, di samping cita rasa kemanusiaan dan keadilan. Abu Nawas belajar sastra Arab kepada Abu Zaid al-Anshari dan Abu Ubaidah. Ia juga belajar Al-Quran kepada Ya'qub al-Hadrami. Sementara dalam Ilmu Hadis, ia belajar kepada Abu Walid bin Ziyad, Muktamir bin Sulaiman, Yahya bin Said al-Qattan, dan Azhar bin Sa'ad as-Samman.

Pertemuannya dengan penyair dari Kufah, Walibah bin Habab al-Asadi, telah memperhalus gaya bahasanya dan membawanya ke puncak kesusastraan Arab. Walibah sangat tertarik pada bakat Abu Nawas yang kemudian membawanya kembali ke Ahwaz, lalu ke Kufah. Di Kufah bakat Abu Nawas digembleng. Ahmar menyuruh Abu Nawas berdiam di pedalaman, hidup bersama orang-orang Arab Badui untuk memperdalam dan memperhalus bahasa Arab.

Kemudian ia pindah ke Baghdad. Di pusat peradaban Dinasti Abbasyiah inilah ia berkumpul dengan para penyair. Berkat kehebatannya menulis puisi, Abu Nawas dapat berkenalan dengan para bangsawan. Namun karena kedekatannya dengan para bangsawan inilah puisi-puisinya pada masa itu berubah, yakni cenderung memuja dan menjilat penguasa.

Dalam Al-Wasith fil Adabil 'Arabi wa Tarikhihi, Abu Nawas digambarkan sebagai penyair
Advertisement
multivisi, penuh canda, berlidah tajam, pengkhayal ulung, dan tokoh terkemuka sastrawan angkatan baru. Namun sayang, karya-karya ilmiahnya justru jarang dikenal di dunia intelektual. Ia hanya dipandang sebagai orang yang suka bertingkah lucu dan tidak lazim. Kepandaiannya menulis puisi menarik perhatian Khalifah Harun al-Rasyid. Melalui musikus istana, Ishaq al-Wawsuli, Abu Nawas dipanggil untuk menjadi penyair istana (sya'irul bilad).

Sikapnya yang jenaka menjadikan perjalanan hidupnya benar-benar penuh warna. Kegemarannya bermain kata-kata dengan selera humor yang tinggi seakan menjadi legenda tersendiri dalam khazanah peradaban dunia. Kedekatannya dengan kekuasaan juga pernah menjerumuskannya ke dalam penjara. Pasalnya, suatu ketika Abu Nawas membaca puisi Kafilah Bani Mudhar yang dianggap menyinggung Khalifah. Tentu saja Khalifah murka, lantas memenjarakannya. Setelah bebas, ia berpaling dari Khalifah dan mengabdi kepada Perdana Menteri Barmak. Ia meninggalkan Baghdad setelah keluarga Barmak jatuh pada tahun 803 M. Setelah itu ia pergi ke Mesir dan menggubah puisi untuk Gubernur Mesir, Khasib bin Abdul Hamid al-Ajami. Tetapi, ia kembali lagi ke Baghdad setelah Harun al-Rasyid meninggal dan digantikan oleh Al-Amin.

Sejak mendekam di penjara, syair-syair Abu Nawas berubah, menjadi religius. Jika sebelumnya ia sangat pongah dengan kehidupan duniawi yang penuh glamor dan hura-hura, kini ia lebih pasrah kepada kekuasaan Allah.

Memang, pencapaiannya dalam menulis puisi diilhami kegemarannya melakukan maksiat. Tetapi, justru di jalan gelap itulah, Abu Nawas menemukan nilai-nilai ketuhanan. Sajak-sajak tobatnya bisa ditafisrkan sebagai jalan panjang menuju Tuhan. Meski dekat dengan Sultan Harun al-Rasyid, Abu Nawas tak selamanya hidup dalam kegemerlapan duniawi. Ia pernah hidup dalam kegelapan – tetapi yang justru membawa keberkahan tersendiri.

Seorang sahabatnya, Abu Hifan bin Yusuf bin Dayah, memberi kesaksian, akhir hayat Abu Nawas sangat diwarnai dengan kegiatan ibadah. Beberapa sajaknya menguatkan hal itu. Salah satu bait puisinya yang sangat indah merupakan ungkapan rasa sesal yang amat dalam akan masa lalunya. Mengenai tahun meningalnya, banyak versi yang saling berbeda. Ada yang menyebutkan tahun 190 H/806 M, ada pula yang 195H/810 M, atau 196 H/811 M. Sementara yang lain tahun 198 H/813 M dan tahun 199 H/814 M. Konon Abu Nawas meninggal karena dianiaya oleh seseorang yang disuruh oleh keluarga Nawbakhti – yang menaruh dendam kepadanya. Ia dimakamkan di Syunizi di jantung Kota Baghdad. Berikut beberapa Cerita Lucu Abu Nawas yang bisa anda simak di bawah ini :

Cerita Lucu Abu Nawas, Abu Nawas dan Pengemis

Ada seorang saudagar di Bagdad yang memiliki suatu kolam yang airnya populer benar-benar dingin. Konon tak seorangpun yang tahan berendam didalamnya berlama-lama, terlebih sampai separuh malam.

“Siapa yang berani berendam semalam di kolamku, saya beri hadiah sepuluh ringgit, ” kata saudagar itu. Ajakan itu mengundang beberapa orang buat mencobanya. Akan tetapi tak ada yang tahan semalam, paling lama cuma dapat hingga sepertiga malam.

Disuatu hari datang seorang pengemis kepadanya. “Maukah anda berendam didalam kolamku ini semalam? Bila anda tahan saya beri hadiah sepuluh ringgit, ” kata si saudagar.

“Baiklah bakal kucoba, ” jawab si pengemis. Lalu dicelupkannya ke-2 tangan serta kakinya ke dalam kolam, memanglah air kolam itu dingin sekali. “Boleh lumayan, ” tuturnya lalu.

“Kalau demikian kelak malam anda dapat berendam disitu, ” kata si saudagar.

Menunggu datangnya malam si pengemis pulang dahulu pingin memberitahu anak istrinya tentang gagasan berendam di kolam itu.

“Istriku, ” kata si pengemis sesampainya dirumah. “Bagaimana pendapatmu apabila saya berendam semalam di kolam saudagar itu buat memperoleh duit sepuluh ringgit? Bila anda setuju saya bakal mencobanya. ”

“Setuju, ” jawab si istri, “Moga-moga Tuhan menguatkan tubuhmu. ”
Lalu pengemis itu kembali ke tempat tinggal saudagar. “Nanti malam jam delapan anda bisa masuk ke kolamku serta bisa keluar jam enam pagi, ” kata si saudagar, “Jika tahan bakal ku bayar upahmu. ”
Setelah tiba waktunya masuklah si pengemis ke dalam kolam, hampir tengah malam ia kedinginan hingga tak tahan lagi serta pingin keluar, namun lantaran mengharap duit upah sepuluh ringgit, ditahannya maksud itu sekuat tenaga. Ia lalu berdoa pada Tuhan supaya airnya tak terlampau dingin lagi. Nyatanya doanya dikabulkan, ia tak merasa kedinginan lagi. Kurang lebih jam dua pagi anaknya datang menyusul. Ia cemas jangan-jangan bapaknya mati kedinginan. Hatinya benar-benar senang saat dipandang bapaknya tetap hidup. Lalu ia menyalakan api di pinggir kolam serta menanti hingga pagi.

Siang harinya pengemis itu bangkit dari kolam serta buru-buru menjumpai si saudagar buat minta upahnya. Akan tetapi saudagar itu menampik membayar, “Aku tidak ingin membayar, lantaran anakmu bikin api di pinggir kolam, anda pasti tak kedinginan. ”

Akan tetapi si pengemis tidak ingin kalah, “Panas api itu tak hingga ke tubuh aku, tak hanya apinya jauh, aku kan berendam di air, masakan api dapat masuk ke dalam air? ”

“Aku terus tidak ingin membayar upahmu, ” kata saudagar itu ngotot. “Sekarang terserah anda, akan melapor atau berkelahi denganku, saya tunggulah. ”

Dengan perasaan gondok pengemis itu pulang ke tempat tinggal, “Sudah kedinginan 1/2 mati, tak bisa duit lagi, ” pikirnya. Ia lalu menyampaikan penipuan itu pada seorang hakim. Boro-boro pengaduannya di dengar, Hakim itu terlebih membetulkan sikap sang saudagar. Lalu ia berupaya menjumpai beberapa orang besar yang lain buat di ajak bicara, akan tetapi ia terus disalahkan lumayan.

“Kemana lagi saya bakal menyampaikan nasibku ini, ” kata si pengemis dengan suara putus harapan. “Ya Allah, engkau jugalah yang tahu nasib hamba-Mu ini, mudah-mudahan tiap-tipa orang yang benar engkau menangkan. ” Doanya dalam hati.

Ia juga jalan ikuti langkah kakinya dengan perasaan yang makin dongkol. Dengan takdir Allah ia bersua dengan Abu Nawas di pojok jalur.

“Hai, hamba Allah, ” Bertanya Abu Nawas, saat lihat pengemis itu terlihat benar-benar sedih. “mengapa kamu terlihat murung sekali? Walau sebenarnya hawa sedemikian cerah. ”

“Memang benar hamba tengah dilanda malang, ” kata si pengemis, lalu dikisahkan musibah yang menimpa si pengemis sembari menyampaikan nasibnya.

“Jangan sedih lagi, ” kata Abu Nawas mudah. “Insyaallah saya bisa menolong merampungkan masalahmu. Besok datanglah ke rumahku serta lihatlah langkahku, pasti anda menang dengan izin Allah. ”

“Terima kasih banyak, kamu bersedia menolongku, ” kata si pengemis. Lalu keduanya berpisah. Abu Nawas tak pulang ke tempat tinggal, tetapi menghadap Baginda Sultan di Istana. “Apa berita, hai Abu Nawas? ” sapa Baginda Sultan demikian lihat batang hidung Abu Nawas. “Ada persoalan apa kiranya hari ini? ”

“Kabar baik, ya Tuanku Syah Alam, ” jawab Abu Nawas. “jika tak keberatan patik silakan baginda datang kerumah patik, karena patik mempunyai hajat. ”

“Kapan saya harus datang ke rumahmu? ” bertanya baginda Sultan.

“Hari Senin jam tujuh pagi, tuanku, ” jawa Abu Nawas.

“Baiklah, ” kata Sultan, saya pasti datang ke rumahmu. ”

Demikian keluar dari Istana, Abu Nawas segera ke tempat tinggal saudagar yang mempunyai kolam, lalu ke tempat tinggal tuan hakim serta pembesar-pembesar yang lain yang sempat dihubungi oleh si pengemis. Pada mereka Abu Nawas mengemukakan undangan buat datang kerumahnya senin depan.

Hari senin yang ditunggu, dari jam tujuh pagi tempat tinggal Abu Nawas sudah penuh dengan tamu yang diundang, terhitung baginda Sultan. Mereka duduk di permadani yang pada mulanya sudah digelar oleh tuan tempat tinggal seperti dengan pangkat serta kedudukan tiap-tiap. Sesudah seluruhnya terkumpul, Abu Nawas mohon pada sultan buat pergi kebelakang tempat tinggal, ia lalu menggantung suatu periuk besar pada suatu pohon, menjerangnya – menyimpan diatas api.

Tunggulah mempunyai tunggulah, Abu Nawas tak terlihat batang hidungnya, maka Sultan juga memanggil Abu Nawas, “kemana kiranya si Abu Nawas, telah masakkah nasinya atau belum? ” gerutu Sultan.

Rupanya gerutuan Sultan di dengar oleh Abu Nawas, ia juga menjawab, “Tunggulah sebentar lagi, tuanku Syah Alam. ”

Baginda juga diam, serta duduk kembali. Akan tetapi saat matahari sudah tiba ke ubun-ubun, nyatanya Abu Nawas tidak lumayan nampak di hadapan beberapa tamu. Perut baginda yang buncit itu sudah keroncongan. “Hai Abu Nawas, bagaimana dengan masakanmu itu? Saya telah lapar, kata Baginda.

“Sebentar lagi, ya Syah Alam, ” sahut tuan tempat tinggal.

Baginda tetap sabar, ia lalu duduk kembali, namun saat saat dzuhur telah hampir habis tidak lumayan ada hidangan yang keluar, baginda tidak sabar lagi, ia juga menyusul Abu Nawas di bagian belakang tempat tinggal, di ikuti tamu-tamu yang lain. Mereka ingin tahu apa sebenarnya yang ditangani tuan tempat tinggal, nyatanya Abu Nawas tengah mengipa-ngipas api di tungkunya.

“Hai Abu Nawas, kenapa anda bikin api dibawah pohon bagai itu? Tanga baginda Sultan.

Abu Nawas juga bangkit, untuk mendengar pernyataan baginda. “Ya tuanku Syah Alam, hamba tengah memasak nasi, sebentar lagi lumayan masak, ” jawabnya.

“Menanak nasi? ” bertanya baginda, “Mana periuknya? ”

“Ada, tuanku, ” jawab Abu nawas sembari mengangkat mukanya ke atas.

“Ada? ” bertanya beginda keheranan. “Mana? ” ia mendongakkan mukanya ke atas ikuti gerak Abu Nawas, terlihat diatas sana suatu periuk besar bergantung jauh dari tanah.

“Hai, Abu Nawas, telah gilakah anda? ” bertanya Sultan. “Memasak nasi bukan hanya demikian langkahnya, periuk diatas pohon, apinya dibawah, anda tunggulah sepuluh hari juga beras itu tak bakalan jadi nasi. ”

“Begini, Baginda, ” Abu Nawas berupaya menuturkan tindakannya. “Ada seorang pengemis berjanji dengan seorang saudagar, pengemis itu disuruh berendam dalam kolam yang airnya benar-benar dingin serta bakal diupah sepuluh ringgit bila dapat bertahan satu malam. Si pengemis setuju lantaran mengharap upah sepuluh ringgit serta sukses melaksanakan janjinya. Namun si saudagar tidak ingin membayar, dengan argumen anak si pengemis bikin api di tepi kolam. ” Lalu seluruhnya dikisahkan pada Sultan lengkap dengan sikap tuan hakim serta beberapa pembesar yang membetulkan sikap si saudagar. “Itulah penyebab patik berbuat bagai ini. ”

“Boro-boro nasi itu bakal masak, ” kata Sultan, “Airnya saja tak akan panas, lantaran apinya terlampau jauh. ”

“Demikian juga halnya si pengemis, ” kata Abu Nawas lagi. “Ia didalam air serta anaknya bikin api di tanah jauh dari tepi kolam. Namun saudagar itu menyampaikan bahwasanya si pengemis tak berendam di air lantaran ada api di tepi kolam, hingga air kolam jadi hangat. ”

Saudagar itu pucat mukanya. Ia tak bisa membantah kalimat Abu Nawas. Begitupun beberapa pembesar itu, lantaran memanglah demikianlah halnya.

“Sekarang saya ambillah ketentuan begini, ” kata Sultan. “Saudagar itu mesti membayar si pengemis seratus dirham serta di hukum sepanjang sebulan lantaran sudah berbuat salah pada orang miskin. Hakim serta beberapa orang pembesar di hukum empat hari lantaran berbuat tak adil serta menyalahkan orang yang benar. ”

Waktu itu lumayan si pengemis beroleh uangnya dari si saudagar. Sesudah mengemukakan hormat pada Sultan serta berikan salam pada Abu Nawas, ia juga pulang dengan riangnya. Sultan lalu memerintah mentrinya buat memenjarakan saudagar serta beberapa pembesar sebelum saat pada akhirnya kembali ke Istana dalam situasi lapar serta dahaga.

Bakal halnya Abu Nawas, ia juga sesungguhnya perutnya keroncongan serta kehausan.


Cerita Lucu Abu Nawas, Abu Nawas Adu Ketangkasan

Disuatu hari yang cerah, Raja Harun Alrasyiddan pengikutnya meninggalkan istana buat berburu. Akan tetapi di dalam perjalanan, Abu jahil menyusul dengan terengah-engah diatas kudanya. “Baginda, Baginda! Hamba akan mengusulkan suatu hal, ” tuturnya sesudah mendekat sang raja. “Apa usulmu itu, Abu jahil? ” bertanya Baginda Rajakeheranan.

“Agar acara berburu ini menarik serta disaksikan banyak masyarakat, bagaimana bila kita sayembarakan saja? ” tutur Abu jahil dengan mimik serius.

Baginda terdiam sesaat serta mengangguk-angguk.

“Hamba pingin beradu ketangkasan dengan Abu nawas, bagaimana Baginda? Pemenangnya memperoleh sepundi duit emas. Namun bila kalah, hukumannya memandikan kuda-kuda istana, sepanjang sebulan, ” papar Abu jahil memberikan keyakinan sang raja.

“Hei, hadiah saja yang kau pikirkan. Lalu bagaimana langkahnya adu ketangkasan ini? ” sela Baginda agak geram.

Sesudah memberitahu idenya, Baginda setuju, maka di panggillah Abun awas oleh satu diantara punggawa.

Abu nawas menghadap. Ia juga di beri panduan panjang lebar oleh Baginda. Awal mulanya Abu nawas menampik lantaran ia paham seluruh ini akal bulus Abu jahil yang pingin singkirkan dirinya dari istana. Namun Baginda memaksa serta Abunawas tak dapat mengelak. Abu nawas juga memikirkan sesaat. Ia paham bila Abujahil saat ini diangkat jadi pejabat istana. Iapasti mengerahkan seluruh anak buahnya buat menyumbang seekor binatang buruannya di rimba kelak. Akan tetapi lantaran kecerdikannya, Abu nawas jadi tersenyum riang. Abu jahil yang lihat pergantian raut muka Abunawas jadi penasaran. Batinnya berkata, tidak barangkali Abunawas menaklukkan dirinya saat ini.

Pada akhirnya Baginda menggiring mereka ke tengah alun-alun istana. Raja serta seluruh rakyat menanti, siapa yang akan memenangkan lomba berburu ini. Terompet sinyal mulai adu ketangkasan juga ditiup oleh Perdana Menteri. Abu jahil lekas meningkatkan kudanya secepatkilat menuju rimba belantara, di tepi istana. Anehnya, Abu nawas meningkatkan kudanya sedang-sedang saja, hingga diteriaki beberapa pemirsa.

Mendekati sore, terlihat kuda Abu jahil masuk pintu gerbang istana. Ia juga diteriaki beberapa pemirsa serta memperoleh tepuk tangan meriah sekali. Di segi kiri-kanan kudanya terlihat beberapa puluh hewan yang mati terpanah. Tidak cuma itu, kuda penambahan lumayan memanggul binatang buruan yang lain. Abu jahil dengan senyum bangga menunjukkan seluruh binatang buruannya di dalam lapangan.

“Aku, Abu jahil, memiliki hak memenangkan lomba ini. Tengok binatang buruanku banyak, tidak mungkin Abu nawas mengalahkanku!? ” teriaknya lantang. Pemirsa di lebih kurang arena makin ramai bertepuk tangan.

Tak berapakah lama, terdengar nada kaki kudaAbu nawas. Seluruh orang menertawakan serta kembali meneriakinya. Namun, Abu nawas tak terlihat gusar. Ia jadi tersenyum serta melambaikan tangan.

“Tenang, tenang, rakyatku! Kita bakal tahu apa yang bakal dikerjakan Abu nawas. Serta kita lumayan akantahu, siapa pemenangnya saat ini, ” kata raja yang turut gusar lihat polah Abu nawas.

Baginda menyuruh dua orang punggawanya majuke tengah lapangan serta mengkalkulasi binatang buruan Abu jahil.

“Satu, dua, tiga, empat, lima…dua puluh, tiga puluh lima ekor kelinci, ditambah lima ekor rusa, serta dua babi rimba! ” teriak satu diantara punggawa.

“Kalau demikian akulah pemenangnya, karena Abu nawas tak membawa seekor binatang juga. Hahahaha, ” teriak Abu jahil lantang.

“Tenang, tenang. Saya membawa beberapa ribu binatang. Jelaslah saya pemenangnya serta kau pemenangnya serta kau Abu jahil, silahkan memandikan kuda-kuda istana. Berdasarkan aturan lomba, seluruh binatang bisa di tangkap, yang mutlak jumlahnya, ” kata Abu nawas sembari buka bambu kuning yang sudah di isi beberapa ribu semut merah. “Sekarang cobalah kalkulasi ini, satu, dua, tiga, empat, seratus, duaratus, selebihnya tak perlu dihitung, ” ungkap Abu nawas.

Tiada banyak berkata, Abu jahil tidak sadarkan dirialias semaput dikarenakan lihat semut merah Abu nawas. Baginda tertawa terpingkal-pingkal serta segera berikan hadiahpada Abu nawas. Kecerdikan serta ketulusan hati pasti dapat menaklukkan kelicikan!


Cerita Lucu Abu Nawas Belajar dari Buah Arbei

Abu Nawas di kenal mempunyai pemikiran cerdas serta hampir dapat di pastikan dirinya mempunyai jalan keluar atas suatu persoalan yang tengah dihadapi. Diluar itu, Abu Nawas lumayan di kenal untuk saudagar buah-buahan yang dipanen dari kebun kepunyaannya sendiri yang lumayan luas.

Juga karena sangat luasnya kebun yang dimiliki Abu Nawas, sejauh mata melihat yang tampak yaitu bak permadani hijau yang tumbuh subur.

Disuatu hari, Abu Nawas lakukan pengawasan, melihat-lihat kebunnya itu.

Dirinya jalan kaki menyisiri kebunnya melalui setiap petak kebun yang ditanami beragam jenis sayur mayur serta buah-buahan fresh.

Abu Nawas benar-benar bangga serta bahagia lihat tanamannya yang tumbuh subur serta membuahkan banyak buah yang berkwalitas.

Perkataan puja serta puji sukur selalu menerusterucap dari bibir Abu Nawas pada Tuhan.

Inspeksi Kebun Buah.

Pada siang hari yang layak terik itu, perjalanan Abu Nawas yang tengah mengawasi tempat kebun kepunyaannya mendadak berhenti pada suatu petak di mana tumbuh subur pohon-pohon arbei. di mana tumbuh subur pohon-pohon arbei.

Abu Nawas memandangi dengan detil setiap sisi pohon arbei kepunyaannya itu. Dirinya mencermati rantingnya, daunnya sampai buahnya yang terlihat fresh bergelantungan.

Lantaran terik matahari demikian panas pas diatas kepala serta dirinya merasa capek, Abu Nawas lalu berhenti serta beristirahat dibawah pohon arbei yang lebat. Bekal makanan yang telah disediakan oleh istrinya lekas di buka serta disantapnya. Saat ini makanan yang dia bawa tak pedas-pedas sangat, benar-benar enak gumannya dalam hati. Dengan ditemani semilir angin yang sepoi-sepoi, Abu Nawas senang nikmati makanan dari istrinya itu.

Sesudah kenyang, dirinya menumpukan diri pada batang pohon arbei sembari lihat ke atas, dilihatnya buah arbei yang ranum. Sesaat itu juga dirinya memandangi buah labu yang ada di petak seberang, begitu besar buahnya dan ranum.

Bukan hanya Abu Nawas bila dirinya cuma melihat saja. Ya.. bagai umum, Abunawas mulai merenungi buah-buahan yang tumbuh fresh dari kebun kepunyaannya.

TIba-tiba saja terlintas suatu pemikiran dipikiran Abu Nawas.

" Saya itu heran, apa penyebab ya pohon arbei yang sebesar ini akan tetapi buahnya cuma kecil saja. Walau sebenarnya, pohon labu yang merambat serta gampang patah saja dapat membuahkan buah yang besar-besar, " tutur Abu Nawas dalam hati. Kejatuhan Buah Arbei.

Tidak lama berselang, angin kecil juga bertiup hampiri Abu Nawas yang tengah beristirahat seakan-akan segera menjawab pertanyaan yang ada dalam benaknya.

Ranting arbei juga bergerak-gerak serta sama-sama bergesekan serta tidak lama kemudian ada sebiji buah arbei jatuh pas di kepala Abu Nawas yang tengah tak bersorban itu.

" Ahaa... saya tahu penyebab, " tutur Abu Nawas.

Mujur untuk Abu Nawas di siang itu cuma kejatuhan buah arbei waktu tengah beristirahat. Bagamana jadinya bila waktu itu dirinya kejatuhan buah labu?

Allah SWT membuat seluruh makhluknya yang ada di muka bumi ini dengan kelemahan serta keunggulan tiap-tiap, di mana seluruh itu jalan seperti dengan fungsinya.

Sama-sama keterikatan serta sama-sama memerlukan.


Cerita Lucu Abu Nawas Jumlah Bintang di Langit

Abu Nawas memanglah di kenal mempunyai otakyang cerdas.

Lantaran kederdasan yang ia punyai ini, ia dinobatkan untuk orang terbijak di desa area ia tinggal.

Satu diantara bukti kedersan yang ia punyai yaitu dapat mengkalkulasi jumlah bintangyang ada di langit.

Situs (blog) Cerita Abu Nawas bakal menceritakan kisahnya.

Disuatu hari, ada tiga orang bijak yang pergi berkeliling negeri buat memperoleh jawaban atas pertanyaan yang mendesak. Tidak jelas apa yang menuntun ketiga orang bijak itu hingaa sampailah mereka disuatu hari di desa Abu Nawas tinggal.

Tiada basa-basi lagi, dengan argumen waktuyang benar-benar mendesak, ketiga orang itu menghendaki sebagian warga buat mengajukan diri supaya akan menjawab pertanyaan yang dilemparkan oleh ketiga orang bijak itu. Seluruh juga menggelengkan kepala sinyal tidak dapat menjawab.

Bertanya Jawab

Akan tetapi selang beberapa saat, beberapa orang desa juga menyodorkan Abu Nawas untuk wakil beberapa orang bijak buat mewakili desa mereka. Abu Nawas dipaksa berhadapan dengan tiga orang bijak itu serta di sekitar mereka berkumpullah beberapa orang desa yang melihat pembicaraan itu sekitar bertanya jawab.

Orang bijak pertama ajukan pertanyaan pada Abu Nawas, " Dimanakah sesungguhnya pusat buni? "

" Pas dibawah telapak kaki aku, Saudara, " jawab Abu Nawas.

" Bagaimana dapat Saudara tunjukkan hal semacam itu? " bertanya orang bijak pertama tadi.

" Bila tak yakin, ukur saja sendiri, " jawab Abu Nawas mudah.

Orang bijak yang pertama tadi diam tidak dapat menjawab.

Lihat orang bijak pertama tadi kalah oleh Abu Nawas, tiba giliran orang bijak ke-2 yang mengajukan pertanyaan.

" Berapakah banyak jumlah bintang yang ada di langit? " tanyanya.

" Bintang-bintang yang ada di langit itu jumlahnya sama juga dengan rambut yang tumbuh di keledai aku ini, " jawab Abu Nawas

" Bagaimana dapat Saudara tunjukkan perihal hal semacam itu, " bertanya orang bijak ke-2.

" Nah, bila tak yakin, kalkulasi saja rambut yang ada di keledai ini, serta kelak Saudara bakal tahu kebenarannya, " jawab Abu Nawas dengan mudah tiada dosa.

" Bila itu sih bicara ngawur, bagaimana orang dapat mengkalkulasi bulu keledai? " bertanya orang bijak ke-2 lagi.

" Nah... bila aku ngawur, mengapa Saudara lumayan mengajukan pertanyaan itu, bagaimana orang dapat mengkalkulasi bintang di langit? " sanggah Abu Nawas.

Mendengar jawaban itu, si orang bijak ke-2 juga tak dapat meneruskan pertanyaannya lagi.

Orang Terbijak

Tahu ke-2 rekannya tidak berdaya atas tiap-tiap jawaban yang didapatkan dari Abu Nawas, maka orang bijak yang ketiga juga mengajukan pertanyaan.

Di antara ketiga orang bijak itu, orang ketiga inilah yang tuturnya paling bijak.

Dirinya betul-betul terusik oleh tiap-tiap jawaban cerdik yang didapatkan dari Abu Nawas.

" Nampaknya Saudara tahu banyak tentang keledai, namun cobalah Saudara katakan pada aku berapakah jumlah bulu yang ada di ekor keledai itu, " bertanya orang bijak ketiga itu dengan ketusnya.

" Aku tahu jumlahnya, jumlah bulu yang ada pada ekor keledai aku ini sama juga dengan jumlah rambut yang ada di janggutSaudara, " jawab Abu Nawas dengan ketus juga.

" Bagaimana Saudara dapat tunjukkan hal semacam itu? " bertanya orang bijak ketiga lagi.

" Oh... bila yang itu sih gampang, begini, Saudara mencabut selembar bulu dari ekorkeledai aku, serta lalu aku mencabut sehelai rambut dari janggut Saudara. Nah... bila sama, maka apa yang aku katakan itu benar, namun bila tak, aku yang salah, " jawab Abu Nawas dengan penuh motivasi.

Sudah pasti orang bijak yang ketiga itu tidak ingin terima langkah mengkalkulasi yang bagai itu.

Pada akhirnya orang bijak itu kembali ke negeri aslinya, serta sesaat itu beberapa orang desa makin meyakini bahwasanya abunawas yaitu orang yang terbijak diantara keempat orang itu...!


Cerita Lucu Abu Nawas, Abu Nawas dan Kisah 6 Ekor Lembu

Disuatu hari, Sultan Harun al-Rasyid memanggil Abu Nawas menghadap ke Istana. Saat ini Sultan pingin menguji kecerdikan Abu Nawas. Sesampainya dihadapan Sultan, Abu Nawas juga menyembah. Serta Sultan bertitah, “Hai, AbuNawas, saya inginkan enam ekor lembu berjenggot yang pintar bicara, bisakah engkau menghadirkan mereka kurun waktu satu minggu? Bila gagal, bakal saya penggal lehermu.

“Baiklah, tuanku Syah Alam, hamba “Baiklah, tuanku Syah Alam, hamba junjung tinggi titah tuanku. ”
Seluruh punggawa istana yang ada pada waktu itu, berkata dalam hati, “Mampuslah kau Abu Nawas! ”
Abu Nawas bermohon diri serta pulang ke tempat tinggal. Demikian hingga dirumah, ia duduk berdiam diri merenungkan hasrat Sultan. Seharian ia tak keluar tempat tinggal, hingga bikin tetangga heran. Ia baru keluar tempat tinggal persis sesudah satu minggu lalu, yakni batas saat yang didapatkan Sultan kepadanya.

Ia lekas menuju kerumunan orang banyak, lalu katanya, “Hai beberapa orang muda, hari ini hari apa? ”
Beberapa orang yang menjawab benar bakal dia lepaskan, namun beberapa orang yang menjawab salah, bakal ia tahan. Serta nyatanya, tak ada seorangpun yang menjawab dengan benar. Tidak ayal, Abu Nawas juga geram-marah pada mereka, “Begitu saja kok anggak dapat menjawab. Bila demikian, mari kita menghadap Sultan Harun Al-Rasyid, buat melacak tahu kebenaran yang sebenarnya. ”

Esok harinya, balairung istana Baghdad dipenuhi warga penduduk yangingin tahu kesanggupan Abu Nawas mambawa enam ekor Lembu berjenggot.

Hingga di depan Sultan Harun Al-Rasyid, ia juga menghaturkan sembah serta duduk dengan khidmat. Lalu, Sultan berkata, “Hai Abu Nawas, mana lembu berjenggot yang pintar bicara itu? ”

Tiada banyak bicara, Abu Nawas juga menunjuk ke enam orang yang dibawanya itu, “Inilah mereka, tuanku Syah Alam. ”

“Hai, Abu Nawas, apa yang kau perlihatkan kepadaku itu? ”

“Ya, tuanku Syah Alam, tanyalah pada mereka hari apa saat ini, ” jawab Abu Nawas.

Saat Sultan ajukan pertanyaan, nyatanya beberapa orang itu berikan jawaban berlainan. Maka berujarlah Abu Nawas, “Jika mereka manusia, pastinya tahu hari ini hari apa. Terlebih bila tuanku bertanya hari yang lain, bakal lebih pusinglah mereka. Manusia atau hewan kah mereka ini? “Inilah lembu berjenggot yang pintar bicara itu, Tuanku. ”

Sultan heran lihat Abu Nawas pintar melepas diri dari ancaman hukuman. Maka Sultan juga menghadiahkan 5. 000 dinar pada Abu Nawas.


Cerita Lucu Abu Nawas, Abu Nawas dan Harimau Berjenggot

“Hai Abu Nawas, ” seru Khalifah Harun Al-Rasyid. “Sekarang lumayan anda mesti bisa mempersembahkan kepadaku seekor harimau berjenggot, bila gagal, akubunuh kau. ”

Kalimat itu adalah perintah Sultan yang disampaikan dengan penuh tegas serta kegeraman. Dari wujud mulutnya saat mengatakan kalimat itu jelas begitu Sultan menyimpan dendam kesumat pada Abu Nawas yang sudah berulang-kali mempermainkan dirinya dengan langkah-carayang benar-benar kurang ajar. Perintah itu adalah langkah Baginda buat bisa membunuh Abu Nawas.

“Ya tuanku Syah Alam, ” jawab Abu Nawas. “semua perintah paduka bakal hamba kerjakan, akan tetapi buat yang satu ini hamba mohon saat delapan hari. ”

“Baik, ” kata Baginda.

Alkisah, pulanglah Abu Nawas ke tempat tinggal. Agaknya ia telah menangkap gelagat bahwasanya Raja benar-benar geram kepadanya, dicarinya akal agar bisa mencelakakan diriku, supaya terbalas dendamnya, ” pikir Abu Nawas. “jadi saya lumayan mesti waspada. ”

Sesampainya dirumah di panggilnya emapt orang tukang kayu serta disuruhnya bikin kandang macan. Cuma kurun waktu tiga hari kandang itu juga siap telah. Pada istrinya ia berpesan supaya menjamu orang yang berjenggot yang datang kerumah. “Apabila adinda dengar kakanda mengetuk pintu kelak, suruh dia masuk kedalam kandang itu, ” kata Abu Nawas sembari menunjuk kandang itu. Ia lalu bergegas pergi ke Musalla dengan membawa sajadah.

“Baik, ” kata istrinya.

“Hai Abu Nawas, tumben Lu shalat disini? ” ajukan pertanyaan Imam serta penghulu mushalla itu.

Sesungguhnya aku akan menceritakan hal semacam ini pada orang lain, namun bila tak pada tuan penghulu pada siapa lagi aku mengadu, ” jawab Abu Nawas. “Tadi malam aku ribut dengan istri aku, itu penyebab aku tidak ingin pulang ke tempat tinggal. ”

“Pucuk dicinta, ulam tiba, ” pikir penghulu itu. “Kubiarkan Abu Nawas tidur di sini serta saya pergi kerumah Abu Nawas menjumpai istrinya, telah lama saya menyimpan hati pada wanita cantik itu. ”

“Hai Abu Nawas, ” kata si penghulu, “Bolehkah saya merampungkan perselisihan dengan istrimu itu? ”

“Silakan, ” jawab Abu Nawas. “Hamba benar-benar berterima kasih atas kebaikan hati tuan. ”

Maka pergilah penghulu ke tempat tinggal Abu Nawas dengan hati berbungan-bunga, serta dengan muka berseri-seri diketuknya pintu tempat tinggal Abu Nawas. Demikian pintu terbuka ia segera mengamit istri Abu Nawas serta di ajak duduk bersanding.

“Hai Adinda,,, ” tuturnya. “Apa gunanya mempunyai suami jahat serta miskin, lagi juga Abu Nawas hidupnya tidak karuan, makin baik anda jadi istriku, anda bisa hidup suka serta tak kelemahan satu apa. ”

“Baiklah bila hasrat tuan demikianlah, ” jawab istri Abu awas.

Tidak berapakah lama lalu terdengar pintu diketuk orng, ketukan itu bikin penghulu belingsatan, “kemana saya mesti bersembunyi ia ajukan pertanyaan pada nyonya tempat tinggal.

“Tuan penghulu…. ” Jawab istri Abu Nawas, “Silahkan bersembunyi didalam kandang itu, ” ia lalu menunjuk kandang yang terdapat didalam kamar Abu Nawas.

Tiada pikir panjang lagi penghulu itu masuk ke dalam kandang itu serta menutupnya dari dalam, sedang istri Abu Nawas lekas buka pintu, sembari menengok ke kiri-kanan, Abu Nawas masuk ke dalam tempat tinggal.

“Hai Adinda, apa yang ada didalam kandang itu.? ” Bertanya Abu Nawas.

“Tidak ada apa-apa, ” jawab Istrinya. “Apa putih-putih itu? ” bertanya Abu Nawas, lalu dilihatnya penghulu itu gemetar lantaran malu serta ketakutan.

Sesudah delapan hari Abu Nawas memanggil delapan kuli buat menanggung kandang itu ke Istana. Di Bagdad orang gempar pingin lihat Harimau berjenggot. Seumur hidup, jangankan lihat, mendengar harimau berjenggot juga belumpernah. Saat ini Abu Nawas jadi bisa seekor. Mereka terheran-heran bakal kehebatan Abu Nawas. Namun demikian dipandang penghulu didalam kandang, mereka tak dapat katakan apa-apa tak hanya menemani kandang itu hingga ke Istana sampai jadi arak-arakan yang panjang. Si penghulu malu bukan hanya main, arang di muka kemana akan disembunyikan. Tak lama kemudia sampailah iring- iringan itu ke dalam Istana.

“Hai Abu Nawas, apa kabarnya? ” bertanya Baginda Sultan, “Apa anda telah sukses memperoleh harimau berjenggot? ”

“Dengan berkat serta doa tuanku, Alhamdulillah hamba sukses, ” jawab Abu Nawas.

Maka dibawalah kandang itu ke hadapan Baginda, saat Baginda akan lihat harimau itu, si penghulu memalingkan mukanya ke arah lain dengan muka merah padam lantaran malu, walau demikian kemanapun ia menoleh, kesitupula Baginda memelototkan matanya. Tiba-tiba Baginda menggeleng-gelengkan kepala dengan takjub, karena berdasarkan penglihatan beliau yang ada didalam kandang itu yaitu penghulu Musalla. Abu Nawas buru-buru menimpali, “Ya tuanku, tersebut Harimau berjenggot. ”

Namun baginda tak cepat tanggap, beliau termenung sesaat, mengapa penghulu disebutkan harimau berjenggot, tiba-tiba baginda bergoyang kekiri serta ke kanan bagai orang berdoa. “Hm, hm, hm oh penghulu…”

“Ya Tuanku Syah Alam, ” kata Abu Nawas, “Perlukah hamba memberitahukan mengapa hamba bisa menangkap harimauberjenggot ini dirumah hamba sendiri? ”

“Ya, ya, ” tutur Baginda sembari menoleh ke kandang itu dengan mata berapi-api. “ya saya maklum telah. ”

Bukan hanya main murka baginda pada penghulu itu, karena ia yang harusnya menegakkan hukum, ia juga yang melanggarnya, ia sudah berkhianat. Baginda lekas memerintahkan punggawa keluarkan penghulu dari kandang serta diarak keliling pasar sebelumnya setelah di cukur sisi empat, supaya di ketahui oleh semua rakyat begitu aibnya orang yang berkhianat.


Cerita Lucu Abu Nawas, Abu Nawas dan Menteri Zalim

Di Negeri Baghdad dulu saat ada seorang menteri yang di kenal benar-benar jahatperangainya, hingga ditakuti warganya. Ia tak dapat lihat wanita cantik, terlebih istri orang, pasti diambilnya. Jika beli satu barang, ia tak sempat akan membayar. Ihwal itu lama kelamaan hingga lumayan ke telinga Abu Nawas hingga bikin hatinya panas. Maka Abu Nawas juga gunakan kemauan tak lagi meninggalkan daerah itu sebelum saat Jika beli satu barang, ia tak sempat akan membayar. Ihwal itu lama kelamaan hingga lumayan ke telinga Abu Nawas hingga bikin hatinya panas. Maka Abu Nawas juga gunakan kemauan tak lagi meninggalkan daerah itu sebelum saat sang menteri hembuskan nafas paling akhir dengan kata lain mati.

Lalu Abu Nawas geramkat ke area menteri itu tinggal serta berniat menyewa tempat tinggal yang berdekatan buat lakukan investigasi. Sesudah sekian hari bergaul dengan masyarakat di situ, ia juga kenal dengan sang menteri serta juga bersahabat baik. Demikian sebaiknya pendekatan yang dikerjakan hingga menteri itu tak dapat mencium gagasan busuk Abu Nawas. Abu Nawas bisa masuk serta keluar tempat tinggal itu dengan bebas, hingga ia tak menyimpan berprasangka buruk sekalipun kepadanya.

Didalam tempat tinggal itu Abu Nawas lihat suatu tiang gantungan yang dipakai buat menggantung beberapa orang yang bersalah pada menteri itu. Langkah menggantungnya juga lewat cara yang sadis, yakni kaki diatas serta kepala dibawah. Dalam posisi demikianlah, orang itu dipukuli hingga mati.

“Dengan demikianlah memanglah benar berita-berta yang saya dengar perihal menteri ini, ” pikir Abu Nawas. “Nantikanlah, saya juga bakal membalas. ”

“Hai orang muda, ” kata Abu Nawas, pada seorang pemuda tampan yang tengah menggiring seekor lembu gemuk. “Apakah lembu itu bakal di jual? ” Pertemuan itu berlangsung saat Abu Nawas berjalan-jalan di suatu pojok desa itu.

“Lembu ini tak di jual, ” jawab si pemuda, “Karena ini warisan ayah hamba. ”

“Lebih baik lembu itu di jual saja, ” Abu Nawas coba merayu. “Kalau laris dengan harga tinggi, anda dapat berdagangsehingga duit itu jadi banyak. ”

“Betul lumayan kata Tuan, ” jawab si pemuda sesudah memikirkan sesaat. “Namun buat menjualnya hamba mesti berkonsultasi dengan ibu dirumah, bila ibu setuju bisa tuan membelinya. ”

“Itu bakal makin baik, ” Tutur Abu Nawas. Sesaat anak muda itu pulang, Abu Nawas memeras otak, ia bakal berupaya memakai ketampanan muka anak muda itu buat melaksanakan gagasannya.

“Hai menteriku, tunggu bagianmu kelak, ” kata Abu Nawas dalam hati denganperasaan berang.

“Ibu setuju jual lembu ini, ” kata pemuda itu pada Abu Nawas, sesudah keduanya bersua lagi.

“Bagus, ” kata Abu Nawas, “Tetapi sesungguhnya bukan hanya saya yang bakal membelilembumu, tetapi menteri yang zalim itu. Oleh karenanya berikanlah harga yang pasti, setelah itu kita bikin perjanjiandan anda yang bakal melaksanakannnya. “Setuju? ” Bertanya Abu Nawas. “Setuju! ” jawab si pemuda.

“Giringlah lembumu itu ke kebun, serta tunggu saya disana, ” kata Abu Nawas. “Aku bakal ke tempat tinggal menteri itu serta kemudian saya menemuimu. ”

“Hai menteri, ada seorang pemuda yang bakal jual seekor lembu gemuk, ” kata Abu Nawas. “Jika Kamu tertarik, silakan kamu beli dengan harga yang layak, murah, mari kita ke kebun itu. ”

“Berapa harga nya? ” bertanya si menteri demikian hingga di kebun. Ia benar-benar tertarik serta pingin lekas membelinya.

“Lima puluh dinar, ” jawab si pemuda. “Boleh ditawar? ” bertanya si menteri. “Tidak dapat, lantaran lembu ini warisan ayah hamba, ” jawab si pemuda.

“Baik, pasti kebayar harga itu, ” tutur si menteri. Maka disodorkan ujung tali pengikat lembu pada menteri, akan tetapi saat ditarik nyatanya kosong. Rupanya diam-diam Abu Nawas sudah melepas binatang itu, akan tetapi lantaran harga sudah disetujui, pemuda itu menghendaki bayarannya.

“Mana lembunya? ” bertanya si menteri. “Masa cuma talinya? Saya tak sudi membayar. ”

Keduanya juga berbantah-bantahan dengan sengitnya. “Aku minta bayarannya, ” kata si pemuda. “Kalau tidakmau bayar, kembalikan lembuku. ”

“Apa yang harus kubayar, serta apa yang perlu kukembalikan, ” kilah si menteri. “Cuma tali yang kau berikanlah kepadaku … Nih, ambil, saya tak perlu tali. ”

“Kerjamu memanglah hanya menipu serta menganiaya orang! ” kata si pemuda lagi. “Kamu memanglah zalim, akan makan darah orang kecil. ”

Si menteri tak menggubris lagi pengucapan itu, ia jalan pulang kerumahnya. Sementar si anak muda hatinya benar-benar sedih, lembu hilang, duit melayang. “Barangkali memanglah tersebut nasibku. Apa bisa buat, ” keluhnya.


Cerita Lucu Abu Nawas Ternyata Juga Bisa Kena Tipu

Lantaran kesusahan duit, Abu Nawas mengambil keputusan buat jual keledai kesayangannya. Keledai itu adalah kendaraan Abu Nawas hanya satu. Sesungguhnya ia tak tega buat menjualnya. Namun keluarga Abu Nawas sangat memerlukan duit. Serta istrinya setuju.

Esok harinya Abu Nawas membawa keledai ke pasar. Abu Nawas tidak paham bila ada sekelompok pencuri yang terdiri dari empat orang sudah mengetahui situasi serta gagasan Abu Nawas. Mereka setuju bakal memperdaya Abu Nawas. Gagasan juga mulai mereka susun. Saat Abu Nawas beristirahat dibawah pohon, salah seorang mendekat serta berkata,

“Apakah engkau bakal jual kambingmu? ” Sudah pasti Abu Nawas terkejut mendengar pertanyaan yang demikian tiba-tiba.

“Ini bukan hanya kambing. ” kata Abu Nawas.

“Kalau bukan hanya kambing, lalu apa? ” bertanya pencuri itu setelah itu.

“Keledai. ” kata Abu Nawas.

“Kalau engkau meyakini itu keledai, jual saja ke pasar serta serta tanyakan pada mereka. ” kata komplotan pencuri itu sembari berlalu. Abu Nawas tak dipengaruhi. Lalu ia melanjutkan perjalanannya. Saat Abu Nawas tengah menunggang keledai, pencuri ke-2 menghampirinya serta berkata.

“Mengapa kau menunggang kambing? ”

“Ini bukan hanya kambing namun keledai. ”

“Kalau itu keledai saya tak ajukan pertanyaan bagai itu, basic orang aneh. Kambing kok disebutkan keledai. ”

“Kalau ini kambing saya tak lagi menungganginya. ” jawab Abu Nawas tiada sangsi. “Kalau engkau tak yakin, pergilah ke pasar serta tanyakan pada beberapa orang disana. ” kata pencuri ke-2 sembari berlalu.

Abu Nawas belum dipengaruhi serta ia terus jalan menuju pasar. Pencuri ketiga datang hampiri Abu Nawas, ”Hai Abu Nawas bakal kau bawa ke mana kambing itu? ” Saat ini Abu Nawas tak lekas menjawab. Ia mulai sangsi, telah tiga orang menyampaikan bila hewan yang dibawanya yaitu kambing. Pencuri ketiga tak menyia-nyiakan peluang. Ia semakin merecoki otak Abu Nawas,

“Sudahlah, meskipun kau bersikeras hewan itu yaitu keledai nyatanya itu yaitu kambing, kambing… kambiiiiiing…! ”

Abu Nawas berhenti sesaat buat beristirahat dibawah pohon. Pencuri ke empat melaksanakan kiat busuknya. Ia duduk di samping Abu Nawas serta mengajak tokoh cerdik ini buat berbincang-bincang.

“Ahaa, bagus sekali kambingmu ini…! ” pencuri ke empat buka pembicaraan.

“Kau lumayan meyakini ini kambing? ” bertanya Abu Nawas.

“Lho? ya jelas sekali bila hewan ini yaitu kambing. Bila bisa saya pingin membelinya. ”

“Berapa kau akan membayarnya? ”

“Tiga dirham! ” Abu Nawas setuju.

Sesudah terima duit dari pencuri ke empat lalu Abu Nawas segera pulang. Setiba dirumah Abu Nawas dimarahi istrinya. “Jadi keledai itu cuma engkau jual tiga dirham karena mereka menyampaikan bahwasanya keledai itu kambing? ”

Abu Nawas tak dapat menjawab. Ia cuma dengarkan ocehan istrinya dengan setia sembari menahan rasa dongkol. Saat ini ia baru mengerti bila telah diperdayai oleh komplotan pencuri yang menggoyahkan akal sehatnya. Abu Nawas berencana suatu hal. Ia pergi ke rimba melacak sebatang kayu buat jadikan suatu tongkat yang nanti dapat membuahkan duit. Gagasan Abu Nawas nyatanya jalan lancar. Hampir seluruh orang mengulas keajaiban tongkat Abu Nawas. Berita ini lumayan terdengar oleh beberapa pencuri yang sudah menipu Abu Nawas. Mereka segera tertarik. Juga mereka lihat sendiri saat Abu Nawas beli barang atau makan tiada membayar namun cuma dengan mengacungkan tongkatnya. Mereka memikirkan bila tongkat itu dapat dibeli maka pasti mereka bakal kaya lantaran cuma dengan mengacungkan tongkat itu mereka bakal memperoleh apa yang mereka kehendaki. Pada akhirnya mereka mendekati Abu Nawas serta berkata,

“Apakah tongkatmu bakal di jual? ”

“Tidak. ” jawab Abu Nawas dengan cuek.

“Tetapi kami bersedia beli dengan harga yang sangat tinggi. ” kata mereka.

“Berapa? ” kata Abu Nawas pura-pura merasa tertarik.

“Seratus dinar duit emas. ” kata mereka tiada ragu-ragu.

“Tetapi tongkat ini yaitu tongkat wasiat hanya satu yang saya punyai. ” kata Abu Nawas sembari terus berpura-pura tidak mau jual tongkatnya.

“Dengan duit seratus dinar engkau telah dapat hidup enak. ” kata mereka semakin penasaran. Abu Nawas diam sebagian waktu kelihatannya merasa keberatan sekali.

“Baiklah bila demikian. ” kata Abu Nawas lalu sembari menyerahkan tongkatnya. Sesudah terima seratus dinar duit emas Abu Nawas lekas melesat pulang. Beberapa pencuri itu lekas melacak warung paling dekat buat menunjukkan keajaiban tongkat yang baru mereka beli. Selesai makan mereka mengacungkan tongkat itu pada yang memiliki kedai. Sudah pasti yang memiliki kedai geram.

“Apa maksudmu mengacungkan tongkat itu padaku? ”

“Bukankah Abu Nawas lumayan mengacungkan tongkat ini serta engkau membebaskannya? ” bertanya beberapa pencuri itu.

“Benar. Namun engkau mesti tahu bahwasanya Abu Nawas menitipkan beberapa duit kepadaku sebelum saat makan disini! ”

“Gila! Nyatanya kita tak memperoleh keuntungan sekalipun menipu Abu Nawas. Kita jadi rugi besar! ” umpat beberapa pencuri dengan rasa dongkol.


Cerita Lucu Abu Nawas Cara Menjebak Pencuri

Pada zaman dulu orang memikirkan lewat cara yang sangat simpel. Serta lantaran kesederhanaan memikirkan ini seorang pencuri yang sudah sukses menggondol seratus keping makin duit emas punya seorang saudagar kaya tak sudi menyerah. Hakim sudah berupaya keras dengan beragam langkah namun tak sukses temukan pencurinya. Lantaran merasa putus harapan yang memiliki harta itu menginformasikan pada siapapun yang sudah mengambil harta kepunyaannya merelakan separo dari jumlah duit emas itu jadi punya sang pencuri apabila sang pencuri bersedia mangembalikan.

Namun pencuri itu jadi tak berani memperlihatkan bayangannya. Saat ini masalah itu makin ruwet tiada penyelesaian yang pasti. Maksud baik saudagar kaya itu tak mendapat-tanggapan yang sepantasnya dari sang pencuri. Maka tak dapat disalahkan apabila saudagar itu mengadakan sayembara yang diisi siapa saja sukses temukan pencuri duit emasnya, ia memiliki hak seutuhnya mempunyai harta yang dicuri. Tak sedikit orang yang coba namun seluruhnya kandas.

Hingga pencuri itu jadi tambah merasa aman tentram lantaran ia meyakini jati dirinya tidak bakal terjangkau. Yang makin menyebalkan yaitu ia lumayan berpura-pura ikuti sayembara. Tak terlalu berlebih apabila disebutkan bahwasanya hadapi orang bagai ini seperti hadapi jin. Mereka ketahui kita sedang kita tak. Seorang masyarakat berkata pada hakim setempat.

“Mengapa tuan hakim tak minta pertolongan Abu Nawas saja? ”
“Bukankah Abu Nawas tengah tak ada ditempat? ” kata hakim itu balik ajukan pertanyaan.
“Kemana dia? ” bertanya orang itu.
“Ke Damakus. ” jawab hakim
“Untuk kepentingan apa? ” orang itu mau tahu.
“Memenuhi undangan pangeran negeri itu. ” kata hakim.
“Kapan ia datang? ” bertanya orang itu lagi.

“Mungkin dua hari lagi. ” jawab hakim. Saat ini harapan tertumpu seutuhnya diatas pundak Abu Nawas. Pencuri yang sampai kini merasa aman saat ini jadi resah serta tertekan. Ia berencana meninggalkan kampung halaman dengan membawa dan duit emas yang sukses dicuri. Namun ia membatalkan kemauan lantaran dengan menyingkir ke luar daerah artinya sama halnya dengan buka topeng dirinya sendiri. Ia lalu berkemauan terus tinggal apa pun yang bakal berlangsung.

Abu Nawas sudah kembali ke Baghdad lantaran tugasnya sudah usai. Abu Nawas terima tawaran ikuti sayembara temukan pencuri duit emas. Hati pencuri duit emas itu lebih berdebar tidak karuan mendengar Abu Nawas mempersiapkan siasat. Esok harinya seluruh masyarakat dusun diharuskan berkumpul di depan gedung pengadilan. Abu Nawas ada dengan membawa tongkat dalam jumlah besar. Tongkat-tongkat itu memiliki ukuran yang sama panjang.

Tiada berbicara Abu Nawas membagi-bagikan tongkat-tongkat yang dibawanya dari tempat tinggal. Sesudah tiap-tiap memperoleh satu tongkat, Abu Nawas berpidato, “Tongkat-tongkat itu sudah saya mantrai. Besok pagi kalian mesti menyerahkan kembaii tongkat yang sudah saya bagikan. Janganlah cemas, tongkat yang dipegang oleh pencuri sampai kini menyembunyikan diri bakal jadi tambah panjang satu jari telunjuk. Saat ini pulanglah kalian. ”

Beberapa orang yang merasa tak mengambil pasti tak memiliki pikiran apa-apa. Namun sebaliknya, si pencuri duit emas itu merasa ketakutan. Ia tak dapat memejamkan mata meskipun malam makin larut. Ia selalu memutar otak. Lalu ia mengambil keputusan memotong tongkatnya selama satu jari telunjuk dengan demikian tongkatnya bakal terus terlihat bagai ukuran awal mulanya. Pagi hari orang mulai berkumpul di depan gedung pengadilan. Pencuri itu merasa tenang lantaran ia meyakini tongkatnya tak lagi dapat di ketahui lantaran ia sudah memotongnya selama satu jari telunjuk. Tidakkah tongkat si pencuri bakal jadi tambah panjang satu jari telunjuk? Ia memberikan pujian pada kecerdikan diri sendiri lantaran ia nyatanya bakal dapat mengelabui Abu Nawas.

Antrian panjang mulai terbentuk. Abu Nawas memeriksa tongkat-tongkat yang diberikan tempo hari. Pada giliran si pencuri tiba Abu Nawas lekas tahu lantaran tongkat yang dibawanya jadi tambah pendek satu jari telunjuk. Abu Nawas tahu pencuri itu pasti lakukan pemotongan pada tongkatnya lantaran ia takut tongkatnya jadi tambah panjang.

Pencuri itu diadili serta dihukum seperti dengan kesalahannya. Seratus keping makin duit emas saat ini beralih ke tangan Abu Nawas. Namun Abu Nawas terus bijaksana, beberapa dari hadiah itu diserahkan kembali pada keluarga si pencuri, beberapa lagi buat beberapa orang miskin serta sisanya buat keluarga Abu Nawas sendiri.


Cerita Lucu Abu Nawas Mengajari Keledai Membaca

Dengan memakai metode pengajaran yang spesial, nyatanya Abu Nawas lumayan dapat menyulap seekor keledai yang dungu jadi pandai membaca. Walau keledai ini terus mempunyai kelemahan dibanding dengan manusia. Ada saja orang yang iri bakal kecerdikan Abu Nawas ini, terhitung beberapa pembesar kerajaan yang pingin jadi menteri yang paling disayangi Raja.

Disuatu hari seorang menteri kerajaan yang di pimpin oleh Harun al Rasyid tiba-tiba mempunyai pikiran jelek pada Abu Nawas. Rupanya ia iri jati pada perhatian Raja yang demikian terlalu berlebih pada Abu Nawas dari pada dirinya. Tidak ada karena, menteri itu berikan seekor keledai pada Abu Nawas.

" Ajari keledai itu membaca. Dalam 2 minguu, datanglah kembali kemari serta kita tengok akhirnya, " kata menteri itu.

Abu Nawas menerimanya serta lalu pergi tiada banyak kata. Akan tetapi dalam hati ia tetap kuatir lumayan atas kemauan menteri itu.
" Apakah ini satu diantara tipu dayanya buat menghancurkan nama baikku? " bertanya Abu Nawas dalam hati.

Abu Nawas berupaya cuek saja serta dalam 2 minggu lalu ia kembali ke istana. Tiada banyak bicara, menteri mengajaknya menghadap Baginda Raja Harun Al Rasyid.

" Baginda, bakal saya perlihatkan siapa sesungguhnya diriku ini, " kata menteri itu dengan lantang.
" Hai menteri, ada apa dengan dirimu? " bentak Raja Harun.
" Tenang Baginda, hari ini Baginda bakal tahu kecerdasan akal aku sesungguhnya mengungguli kecerdasan Abu Nawas, " ucap menteri.
" Terlebih yang bakal di buat oleh menteri ini, " kata Abu Nawas dalam hati.
" Baiklah, bila satu diantara dari kalian menang, maka ia memiliki hak memperoleh sekantung dinar ini, namun untuk yang kalah ia bakal dihukum 3 bln. di penjara, " titah Sang Raja.

Tiada dapat megelak, Abu Nawas terpaksa menyanggupi permainan aneh itu. Tiba-tiba menteri itu menunjuk ke suatu buku besar.

" Cobalah tunjukkan bila keledai itu dapat membaca, tidakkah engkau cerds dalam semua hal? " kata menteri pada Abu Nawas.

Abu Nawas lalu menggiring keledainya ke buku itu serta buka sampulnya. Si keledai memandang buku itu serta selang beberapa saat mulai membalik halamannya dengan lidahnya. Terus-terusan dibaliknya setiapa halaman hingga ke halaman paling akhir. Sesudah usai si keledai memandang Abu Nawas.

" Demikian, keledaiku dapat membaca, " kata Abu Nawas. Saat ini giliran si menteri itu menginterogasi.

" Bagaimana langkahmu mengajari dia membaca? " tanyanya. Abu Nawas Memperoleh Hadiah Dinar

" Sesampainya dirumah, saya siapkan lembaran-lembaran besar serupa buku serta saya sisipkan biji-biji gandum di dalamnya.

Keledai itu mesti belajar membalik-balik halaman buat dapat mengonsumsi biji-biji gandum itu, hingga ia terlatih benar buat membalik-balik halaman buku dengan benar. " jelas Abu Nawas.

" Namun tidakkah ia tak tahu apa yang dibacanya? " tukas si menteri.
" Memanglah demikian langkah keledai membaca, dia cuma membalik-balik halaman tiada tahu berisi.

Bila kita membuka-buka buku tiada tahu berisi, kita dimaksud setolol keledai bukan? " jawab Abu Nawas. Jawab Abu Nawas ini memperoleh anggukan dari Baginda Raja. Raja tahu, sepintar-pintarnya hewan, tak lagi mampu jadi sesempurna manusia. Cuma manusia bodoh saja yg tidak amu memakai akalnya buat berpikir.

Pada akhirnya Abu Nawas memperoleh hadiah sekantung dinar, sedang menteri masuk penjara. Keledai ini langkah membaca buku unik. Dia cuma buka halaman untuk halaman saja, namun bila kita yang membaca dapat mengatakan huruf untuk huruf serta tahu berisi bila dimengerti benar. Demikianlah Cerita Abu Nawas yang mengajari seekor keledai buat dapat membaca.


Cerita Lucu Abu Nawas Telur dan Ayam

Melihat ayam betinanya bertelur, Baginda Harun al Rasyid tersenyum. Beliau memanggil pengawal agar mengumumkan kepada rakyat bahwa kerajaan mengadakan sayembara untuk umum. Sayembara itu berupa pertanyaan yang mudah tetapi memerlukan jawaban yang tepat dan masuk akal. Barangsiapa yang bisa menjawab pertanyaan itu akan mendapat imbalan yang amat menggiurkan. Satu pundi penuh uang emas. Tetapi bila tidak bisa menjawab maka hukuman yang menjadi akibatnya.

Banyak rakyat yang ingin mengikuti sayembara itu terutama orang-orang miskin. Beberapa dari mereka sampai meneteskan air liur. Mengingat beratnya hukuman yang akan dijatuhkan maka tak mengherankan bila pesertanya hanya empat orang. Dan salah satu dari para peserta yang amat sedikit itu adalah Abu Nawas.

Aturan main sayembara itu ada dua. Pertama, jawaban harus masuk akal. Kedua, peserta harus mampu menjawab sanggahan dari Baginda sendiri.

Pada hari yang telah ditetapkan para peserta sudah siap di depan panggung. Baginda duduk di atas panggung. Beliau memanggil peserta pertama. Peserta pertama maju dengan tubuh gemetar. Baginda bertanya,

“Manakah yang lebih dahulu, telur atau ayam?” “Telur.” jawab peserta pertama.

“Apa alasannya?” tanya Baginda.

“Bila ayam lebih dahulu itu tidak mungkin karena ayam berasal dari telur.” kata peserta pertama menjelaskan.

“Kalau begitu siapa yang mengerami telur itu?” sanggah Baginda.

Peserta pertama pucat pasi. Wajahnya mendadak berubah putih seperti kertas. la tidak bisa menjawab. Tanpa ampun ia dimasukkan ke dalam penjara

Kemudian peserta kedua maju. la berkata,

“Paduka yang mulia, sebenarnya telur dan ayam tercipta dalam waktu yang bersamaan.”

“Bagaimana bisa bersamaan?” tanya Baginda.

“Bila ayam lebih dahulu itu tidak mungkin karena ayam berasal dari telur. Bila telur lebih dahulu itu juga tidak mungkin karena telur tidak bisa menetas tanpa dierami.” kata peserta kedua dengan mantap.

“Bukankah ayam betina bisa bertelur tanpa ayam jantan?” sanggah Baginda memojokkan. Peserta kedua bjngung. la pun dijebloskan ke dalam penjara.

Lalu giliran peserta ketiga. la berkata;

“Tuanku yang mulia, sebenarnya ayam tercipta lebih dahulu daripada telur.”

“Sebutkan alasanmu.” kata Baginda.

“Menurut hamba, yang pertama tercipta adalah ayam betina.” kata peserta ketiga meyakinkan.

“Lalu bagaimana ayam betina bisa beranak-pinak seperti sekarang. Sedangkan ayam jantan tidak ada.” kata Baginda memancing.

“Ayam betina bisa bertelur tanpa ayam jantan. Telur dierami sendiri. Lalu menetas dan menurunkan anak ayam jantan. Kemudian menjadi ayam jantan dewasa dan mengawini induknya sendiri.” peserta ketiga berusaha menjelaskan.

“Bagaimana bila ayam betina mati sebelum ayam jantan yang sudah dewasa sempat mengawininya?”

Peserta ketiga pun tidak bisa menjawab sanggahan Baginda. la pun dimasukkan ke penjara.

Kini tiba giliran Abu Nawas. la berkata, “Yang pasti adalah telur dulu, baru ayam.”

“Coba terangkan secara logis.” kata Baginda ingin tahu “Ayam bisa mengenal telur, sebaliknya telur tidak mengenal ayam.” kata Abu Nawas singkat.

Agak lama Baginda Raja merenung. Kali ini Baginda tidak nyanggah alasan Abu Nawas


Cerita Lucu Abu Nawas Menang Lomba Berburu

Pada suatu hari yang cerah, Raja Harun Ar-Rasyid dan para pengawalnya meninggalkan istana untuk berburu. Namun, di tengah perjalanan, salah satu pejabat kerajaan yang bernama Abu Jahil menyusul dengan terengah-engah di atas kudanya.

“Baginda… Baginda…. hamba mau mengusulkan sesuatu” katanya Abu Jahil mendekati sang Raja. “Apa usulm itu wahai Abu Jahil?… tanya Raja.

“Agar acara berburu ini menarik dan disaksikan banyak penduduk, bagaimana kalau kita sayembarakan saja?” ujar Abu Jahil dengan raut wajah serius.
Baginda Raja terdiam sejenak dan mengangguk-angguk.

“Hamba ingin beradu ketangkasan dengan Abunawas, dan nanti pemenangnya akan mendapatkan sepundi uang emas. Tapi, kalau kalah, hukumannya adalah dengan memandikan kuda-kuda istana selama 1 bulan” tutur Abu Jahil meyakinkan Raja.

Terompet Sayembara Ditiup
Akhirnya sang Raja menyetujui usulan Abu Jahil tersebut. Hitung-hitung sayembara itu akan memberikan hiburan kepadanya. Maka, dipanggillah Abunawas untuk menghadap, dan setelah menghadap Raja Harun, Abunawas pun diberi petunjuk panjang lebar.

Pada awalnya, Abunawas menolak sayembara tersebut karena ia tahu bahwa semua ini adalah akal bulus dari Abu Jahil yang ingin menyingkirkannya dari istana.
Tapi Baginda Raja Harun memaksa dan Abunawas tudak bisa menolak.

Abunawas berpikir sejenak

Ia tahu kalau Abu Jahil sekarang diangkat menjadi pejabat istana. Ia pasti mengerahkan semua anak buahnya untuk menyumbang seekor binatang buruannya di hutan nanti.

Namun , karena kecerdikannya, Abunawas malah tersenyum riang. Abu Jahil yang melihat perubahan raut muka Abunawas menjadi penasaran dbuatnya, batinnya berkata mana mungkin Abunawas bisa mengalahkan dirinya kali ini.
Akhirnya, Baginda menggiring mereka ke tengah alun-alun istana. Raja dan seluruh rakyat menunggu, siapa yang bakal menjadi pemenang dalam lomba berburu ini.
Terompet tanda mulai adu ketangkasan pun ditiup. Abu Jahil segera memacu kudanya secepat kilat menuju hutan belantara. Anehnya, Abunawas justru sebaliknya, dia dengan santainya menaiki kudanya sehingga para penonton banyak yang berteriak.

Menjelang sore hari, tampaklah kuda Abu Jahil memasuki pintu gerbang istana. Ia pun mendapat sambutan meriah dan tepuk tangan dari rakyat yang menyaksikannya. Di sisi kanan dan kiri kuda Abu Jahil tampak puluhan hewan yang mati terpanah. Abu Jahil dengan senyum bangga memperlihatkan semua binatang buruannya di tengah lapanangan.

“…Aku, Abu Jahil berhak memenangkan lomba ini. Lihat..binatang buruanku banyak. Mana mungkin Abunawas mengalahkanku?…” teriaknya lantang yang membuat para penonton semakin ramai bertepuk tangan.

Ribuan Semut

Tidak berapa lama kemudian, terdengar suara kaki kuda Abunawas. Semua orang mentertawakan dan meneriakinya karena Abunawas tak membawa satu pun binatang buruan di kudanya.

Tapi, Abunawas tidak tampak gusar sama sekali. Ia malah tersenyum dan melambaikan tangan.

Baginda Raja menyuruh kepada 2 orang pengawalnya maju ke tengah lapangan dan menghitung jumlah binatang buruan yang didapatkan 2 peserta tersebut.

Dan kesempatan pertama, para pengawal menghitung jumlah binatang hasil buruan dari Abu Jahil.
“Tiga puluh lima ekor kelinci, ditambah lima ekor rusa dan dua ekor babi hutan, kata salah satu pengawal”.

“Kalau begitu akulah pemenangnya karena Abunawas tak membawa seekor binatangpun,” teriak Abu Jahil dengan sombongnya.

“Tenang… tenang…. aku membawa ribuan binatang. Jelaslah aku pemenangnya dan engkau wahai Abu Jahil, silahkan memandikan kuda-kuda istana. Menurut aturan lomba, semua binatang boleh ditangkap, yang penting jumlahnya,” kata Abunawas sambil membuka bambu kuning yang telah diisi dengan ribuan semut merah.

“Jumlahnya sangat banyak Baginda, mungkin ribuan, kami tak sanggup menghitungnya lagi,” kata pengawal kerajaan yang menghitung jumlah semut itu.

Melihat kenyataan itu, Abu Jahil tiba-tiba saja jatuh pingsan. Baginda Raja tertawa terpingkal-pingkal dan langsung memberi hadiah kepada Abunawas. Kecerdikan dan ketulusan hati pasti bisa mengalahkan kelicikan.


Cerita Lucu Abu Nawas Ketipu Sandal Ajaib

Kampung tempat tinggal Abu Nawas lama kelamaan membuatnya merasa tak nyaman karena saking banyaknya umat Islam yang menumpuk-numpuk harta dengan menghalalkan segala cara. Otomatis hal ini membuat Abu Nawas gusar, karena sebagai seorang ulama, Abu Nawas berfikir bahwa hal itu bertentangan dengan ajaran islam.

Untuk menghentikan perbuatan buruk tersebut, Abunawas memutar otak mencari ide yang tepat untuk menyadarkan banyak orang.
Setelah berpikir panjang, akhirnya ia menemukan ide cemerlang yaitu ide sandal ajaib. Dengan mengambil peralatan sederhana, berangkatlah ia ke pasar untuk gelar tikar menjual sandal-sandal.

"Sandal ajaib...sandal ajaib....sandal ajaib," kata Abunawas berkali-kali di pasar.
Sesaat kemudian muncullah salah seorang pemuda yang melihat-lihat barang dagangannya.
"Silahkan Tuan, mau mencari apa?" tanya Abunawas.
"Saya ingin mencari sandal yang bisa merubah hidupku yang miskin ini," jawab pemuda itu.
"Apa maksud Tuan?" tanya Abunawas lagi.
"Saya ini sudah lama hidup miskin dan ingin sekali kaya raya. Saya ingin membeli barang yang bisa memberikan saya keberuntungan," kata pemuda itu.

Sejurus kemudian Abunawas menunjukkan salah satu sandal ajaibnya. Ia mengatakan bahwa sandal itu akan membikin penggunanya dari tak punya menjadi orang yang punya. Karena tertarik, pembeli itu akhirnya jadi juga membeli sandal ajaib itu dengan harga yang lumayan mahal.

Si pemuda langsung saja memakai sandal ajaib itu berkeliling kampung dengan harapan semoga keberuntungan segera berpihak kepadanya. Akan tetapi, harapannya tak kunjung terwujud. Jangankan keberuntungan, si pemuda malah dikira pencuri di kampung tersebut. Untung saja para warga tak sampai menghakiminya.

Karena merasa tertipu, pemuda itu kembali lagi menemui Abu Nawas untuk protes.
"Assalamu'alaikum..." sapa pemuda itu.
"Wa'alaiukm salam..., eh ternyata Tuan, bagaimana kabar Tuan?" tanya Abu Nawas.
"Kabar jelek. Aku selalu ditimpa kemalangan gara-gara sandal ini. Padahal dulu engkau mengatakan kalau sandal ini bisa mendatangkan keberuntungan, bisa menjadi kaya dan terkenal, tapi mana buktinya?" protes si pembeli.

"Seingat saya, saya tidak pernah mengatakan seperti itu Tuan?" sergah Abu Nawas.
"Saya hanya mengatakan bahwa bila Tuan pada mulanya orang yang tidak punya, maka dengan membeli sandal ini Tuan akan menjadi orang yang punya. Buktinya sekarang Tuan sudah memiliki sandal ajaib ini," kata Abu Nawas.

Begitu mendengar penuturan Abunawas, pemuda itu hanya bisa diam, ia menyadari bahwa dirinya sedang salah tafsir.
"Lalu mengapa engkau mengatakan bahwa sandal ini ajaib?" tanya pembeli.
"Karena merk sandal ini adalah ajaib, sandal ajaib," jawab Abunawas.

Akhirnya pemuda itu pergi begitu saja tanpa sepatah katapun.
"Tunggu Tuan, saya ingin mengatakan sesuatu kepada Tuan. Mungkin saja akan ada manfaatnya," kata Abu Nawas.

"Jangan percaya kepada barang ajaib, karena percaya pada sesuatu selain Allah SWT bisa membuat kita syirik dan akan mendapatkan kesusahan di dunia dan akhirat kelak. Buktinya sebagaimana yang Tuan alami ini, oleh karena itu, segeralah bertobat kepada Alloh SWT," kata Abu Nawas.

Mendengar penuturan Abu Nawas, sepertinya pemuda itu menyadari kesalahannya. Ternyata banyak sekali hal-hal yang bisa membawa kepada perbuatan yang dimurkai Allah SWT. Mulai saat itulah ia bertobat kepada Allah SWT.


Cerita Lucu Abu Nawas Menangkap Angin

Abu Nawas kaget bukan main ketika seorang utusan Baginda Raja datang ke rumahnya. Ia harus menghadap Baginda secepatnya. Entah permainan apa lagi yang akan dihadapi kali ini. Pikiran Abu Nawas berloncatan ke sana kemari. Setelah tiba di istana, Baginda Raja menyambut Abu Nawas dengan sebuah senyuman.

"Akhir-akhir ini aku sering mendapat gangguan perut. Kata tabib pribadiku, aku kena serangan angin." kata Baginda Raja memulai pembicaraan.
"Ampun Tuanku, apa yang bisa hamba lakukan hingga hamba dipanggil." tanya Abu Nawas.
"Aku hanya menginginkan engkau menangkap angin dan memenjarakannya." kata Baginda. Abu Nawas hanya diam. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Ia tidak memikirkan bagaimana cara menangkap angin nanti, tetapi ia bingung bagaimana cara membuktikan bahwa yang ditangkap itu memang benar-benar angin.

Karena angin tidak bisa dilihat. Tidak ada benda yang lebih aneh dari angin. Tidak seperti halnya air walaupun tidak berwarna tetapi masih bisa dilihat. Sedangkan angin tidak. Baginda hanya memberi Abu Nawas waktu tidak lebih dari tiga hari. Abu Nawas pulang membawa pekerjaan rumah dari Baginda Raja. Namun Abu Nawas tidak begitu sedih. Karena berpikir sudah merupakan bagian dari hidupnya, bahkan merupakan suatu kebutuhan. Ia yakin bahwa dengan berpikir akan terbentang jalan keluar dari kesulitan yang sedang dihariapi. Dan dengan berpikir pula ia yakin bisa menyumbangkan sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan terutama orang-orang miskin. Karena tidak jarang Abu Nawas menggondol sepundi penuh uang emas hadiah dari Baginda Raja atas kecerdikannya.

Tetapi sudah dua hari ini Abu Nawas belum juga mendapat akal untuk menangkap angin apalagi memenjarakannya. Sedangkan besok adalah hari terakhir yang telah ditetapkan Baginda Raja. Abu Nawas hampir putus asa. Abu Nawas benar - benar tidak bisa tidur walau hanya sekejap. Mungkin sudah takdir; kayaknya kali ini Abu Nawas harus menjalani hukuman karena gagal melaksanakan perintah Baginda, Ia berjalan gontai menuju istana. Di sela-sela kepasrahannya kepada takdir ia ingat sesuatu, yaitu Aladin dan lampu wasiatnya.

"Bukankah jin itu tidak terlihat?" Abu Nawas bertanya kepada diri sendiri. ia berjingkrak girang dan segera berlari pulang. Sesampai di rumah ia secepat mungkin menyiapkan segala sesuatunya kemudian manuju istana. Di pintu gerbang istana Abu Nawas langsung dipersilahkan masuk oleh para pengawal karena Baginda sedang menunggu kehadirannya. Dengan tidak sabar Baginda langsung bertanya kepada Abu Nawas.

"Sudahkah engkau berhasil memenjarakan angin, hai Abu Nawas? "
"Sudah Paduka yang mulia." jawab Abu Nawas dengan muka berseri-seri sambil mengeluarkan botol yang sudah disumbat. Kemudian Abu Nawas menyerahkan botol itu. Baginda menimbang-nimang batol itu.
"Mana angin itu, hai Abu Nawas?" tanya Baginda. Di dalam, Tuanku yang mulia." jawab Abu Nawas penuh takzim. "Aku tak melihat apa-apa." kata Baginda Raja.
"Ampun Tuanku, memang angin tak bisa dilihat, tetapi bila Paduka ingin tahu angin, tutup botol itu harus dibuka terlebih dahulu." kata Abu Nawas menjelaskan. Setelah tutup botol dibuka. Baginda mencium bau busuk. Bau kentut yang begitu menyengat hidung.
"Bau apa ini, hai Abu Nawas?" tanya Baginda marah. "Ampun Tuanku yang mulia, tedi hamba buang angin dan hamba. masukkan ke dalam botol. Karena hamba takut angin yang hamba buang itu keluar maka hamba memenjarakannya dengan cara menyumbat mulut botol." kata Abu Nawas ketakutan.

Tetapi Baginda tidak jadi marah karena penjelasan Abu Nawas memang masuk akal. "Heheheheh kau memang pintar Abu Nawas."

Tapi... jangan keburu tertawa dulu, dengar dulu apa kata Abu Nawas. "Baginda...!"
"Ya Abu Nawas!"
"Hamba sebenarnya cukup pusing memikirkan cara melaksanakan tugas memenjarakan angin ini."
"Lalu apa maksudmu Abu Nawas?"
"Hamba. minta ganti rugi."
"Kau hendah memeras seorang Raja?"
"Oh, bukan begitu Baginda."
"Lalu apa maumu?"
"Baginda harus memberi saya hadiah berupa uang sekedar untuk bisa belanja dalam satu bulan."
"Kalau tidak?" tantang Baginda.
"Kalau tidak... hamba akan menceritakan kepada khalayak ramai bahwa Baginda telah dengan sengaja mencium kentut hamba!"
"Hah?" Baginda kaget dan jengkel tapi kemudian tertawa terbahak-bahak. "Baik permintaanmu kukabulkan!"

Demikian Cerita Lucu Abu : Pengemis, Adu Ketangkasan, Buah Arbei, Bintang di Langit, 6 Ekor Lembu, Harimau Berjenggot, Menteri Zalim, Kena Tipu dan Pencuri yang sempat kami bagikan kepada anda dan jika masih ingin cerita lucu lainnya anda bisa baca juga :