Cerita Motivasi Sedih Memilukan Hati "Dikala Senja Mulai Datang"

Ideparokie.com- Sebuah Cerita Sedih yang kami angkat dari kisah seorang nenek yang sedang terbaring di rumah sakit, nenek ini sudah bertahun tahun tinggal di panti jompo, dan tak satupun sanak keluarganya yang menemaninya, dan pada akhirnya ada seorang gadis kecil yang datang disaat terakhirnya. Dan untuk mengetahui kisah nya lebih lanjut silahkan saja simak Cerita Motivasi Sedih Memilukan Hati "Dikala Senja Mulai Datang" berikut ini :


Dikala Senja Mulai Datang

Pada hari Jum’at, seperti biasa seorang khatib menjelaskan pokok-pokok ajaran Islam dan memberi peringatan. Kali ini sang khatib memberikan khutbahnya tentang pentingnya sedekah dan berbagi. Seorang anak kecil berusia tujuh tahun bernama Hannan yang saat itu ikut jum’atan sangat tertarik dengan isi khutbah. Setelah selesai jum’atan, dengan diantar ayahnya, dia memberanikan diri untuk menemui sang khatib. Kemudian anak kecil yang cerdas ini bertanya “Pak Ustadz, saya ingin sekali menjadi orang yang banyak bersedekah seperti yang Pak Ustadz katakan tadi. Tapi saya tidak punya uang untuk banyak bersedekah, saya kan belum kerja, uang jajan saja masih dikasih Ayah. Gimana caranya Hannan bersedekah?”. Mendengar ucapan Hannan, Ustadz tersebut tersenyum, kemudian dengan bijak dia menjawab “Mulia sekali hatimu Nak, kamu bisa tetap bersedekah walaupun tidak punya uang, sedekah itu bisa dengan banyak hal, bisa dengan waktu, dengan tenaga atau dengan fikiran”.
Dikala Senja Mulai Datang
Dikala Senja Mulai Datang
Sepanjang perjalanan pulang dari masjid Hannan selalu memikirkan ucapan Sang Ustadz. Dia bertanya pada Ayahnya bagaimana caranya bersedekah dengan waktu?. Ayah Hannan memang orang yang baik, ini adalah kesempatan untuk mengajarkan pada anaknya agar dia menjadi orang yang peduli dengan sesama. Ayahnya berkata pada Hannan “Hannan sayang, kamu bisa bersedekah dengan memberikan waktumu, bisa dengan cara mendengarkan orang-orang yang sedang perlu didengarkan, mengunjungi orang-orang sakit di rumah sakit, membantu menyuapi mereka, mendengarkan cerita-cerita mereka. Agar bisa berempati, merasakan apa yang mereka rasakan.”

Akhirnya Hannan mengajak Ayahnya mengunjungi sebuah rumah sakit dan dia mendatangi seorang nenek yang terbaring sakit karena penyakit kanker otak, menyalaminya dan duduk disampingnya. Sang Nenek kemudian menangis. Hannan bertanya “Kenapa Nenek menangis?”. Nenek itu menjawab “Karena Allah menjawab do’a-do’aku. Nenek akan menjalani operasi otak besok pagi. Operasi ini sangat berbahaya dan Nenek tidak punya seorang pun yang peduli dan menemani Nenek di saat seperti ini”, ujar sang Nenek yang selama ini menetap di panti jompo. Nenek berdo’a dan meminta pada Allah agar mengirim seseorang untuk menghibur nenek dan bersama Nenek pada saat-saat terakhir Nenek. Dan Allah mengirimkan kamu. Allah mencintai Nenek”

Hannan menangis bersama nenek tua yang akan di operasi itu dan memberinya pelukan hangat yang erat dan cukup lama. Hannan menghabiskan waktu cukup lama di rumah sakit bersama nenek yang kesepian itu. Hannan merasakan nikmatnya dan sangat berartinya berbagi dan peduli pada sesama, mencintai tanpa syarat kepada semua manusia, dengan hati yang tulus dan bersih.

Keesokan harinya sepulang dari sekolah, Hannan dan ayahnya mengunjungi nenek itu lagi untuk mengetahui kabarnya setelah di operasi. Tapi tempat tidurnya ternyata kosong. Seorang perawat berkata “Nenek yang kemarin bersama Adik sekarang sudah tidak akan bersama kita lagi selamanya, dia meninggal dunia tadi pagi setelah gagal dalam operasi otaknya, tapi dia saat meninggal saya melihat senyum yang sangat indah diwajahnya. Dia menitipkan sebuah surat untukmu sebelum operasi”.

Dengan berlinang air mata Hannan membaca surat itu, isinya “Untuk Hannan, temanku satu-satunya. Terima kasih banyak karena telah mencerahkan kembali hidup Nenek di saat-saat terkhir Nenek masih bernafas, terimakasih karena telah peduli pada Nenek. Nenek sangat mencintaimu Nak dan akan selalu mengenangmu. Semoga Allah selalu menjaga dan menyayangimu.”. Hannan berlari, menangis dan memeluk Ayahnya, hatinya sungguh pilu. Namun Ayahnya dengan bijak berkata “Kamu lihat sendiri sayang, betapa banyak yang telah kamu berikan, kamu telah memberi banyak hal yang tidak bisa dinilai dengan uang, kamu memberi cinta yang tulus, kamu memberikan waktumu untuk mereka yang membutuhkan”.

Sejak saat itu nama Hannan mendadak terkenal di panti jompo. Karena dia selalu menyempatkan waktu untuk menemui para lansia yang tinggal disana, menemani mereka, menghibur dan memberikan waktunya dengan cinta yang tulus.

Kisah diatas memang membuat nadi terasa berhenti, selain itu kisah diatas juga mengandung banyak hikmah didalamnya dan semoga apa yang kami suguhkan ini bermanfaat.

Demikian Cerita Motivasi Sedih Memilukan Hati "Dikala Senja Mulai Datang" dari kami dan lihat juga :