Archaebacteria dan Eubacteria : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Tabel Perbedaan dan Contohnya

Ideparokie.com - Berbicara masalah Archaebacteria dan Eubacteria yang kebayakan orang menganggapnya sama, namun anggapan itu terbantahkan dengan materi kemi Archaebacteria dan Eubacteria : Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Tabel Perbedaan dan Contohnya berikut ini tentang :

Pengertian Archaebacteria dan Eubacteria

Berbicara masalah monera sebenarnya terbagi menjadi 2 filum yaitu Archaebacteria dan Eubacteria. lalu apakah Archaebacteria dan Eubacteria itu?untuk itu silahkan simak pejelasan kami berikut ini :

Pengertian Archaebacteria

Archaebacteria adalah  kelompok mikroorganisme yang mempunyai kemampuan adaptasi di lingkungan ekstrem, seperti pada temperatur tinggi, asam, kadar garam tinggi, dan menghasilkan gas metan

Archaebacteria disebut juga sebagai bakteri purba karena merupakan nenek moyang dari bakteri yang ada sekarang ini. Sedangkan Archaebacteria dibagi menjadi tiga kategori berdasarkan lingkungan dimana mereka tinggal :

Thermophiles
Dalam bahasa Yunani, istilah “therm” berarti “panas” dan “philos” artinya “kekasih”. Mereka biasa hidup pada sumber air panas.

Halophiles
Dalam bahasa Yunani kata “halo” berarti “garam” dan  “philos”  artinya “kekasih”. Mereka biasa hidup di tempat yang kadar garamnya tinggi.

Metanogen
Menggunakan karbon dioksida dan hidrogen untuk membuat metana. Mereka ditemukan di rawa-rawa, fasilitas pengolahan limbah dan bahkan dalam perut sapi.
Archaebacteria dan Eubacteria  Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi, Tabel Perbedaan dan Contohnya
Archaebacteria dan Eubacteria  Pengertian, Ciri-ciri,
Klasifikasi, Tabel Perbedaan dan Contohnya

Pengertian Eubacteria

Eubacteria adalah bakteri yang sesungguhnya atau sejati, karena bakteri inilah yang selama ini dikenal dalam kehidupan manusia, baik yang autotrof maupun heterotrof. Eubacteria merupakan bakteri yang bersifat prokariot. Bakteri ini hidup secara parasit dan patogenik. Tetapi, ada juga yang bersifat fotosintetik dan kemoautotrof.

Eubacteria menjadi bagian yang sangat penting dalam proses daur ulang Pengertian, Persamaan, dan Perbedaan Archaebacteria dan Eubacteria nitrogen dan elemen lain. Selain itu, beberapa Eubacteria bisa dimanfaatkan dalam proses industri.

Ciri-ciri Archaebacteria dan Eubacteria

Untuk dapat mengenal lebih jauh tentang Archaebacteria dan Eubacteria maka kita harus mengetahui bagai mana ciri-ciri Archaebacteria dan Eubacteria sebagai berikut :

Ciri-ciri Archaebacteria

  1. Ukuran archaebacteria 0,1-15 mikron.
  2. Archaebacteria Memiliki dinding sel.
  3. Dinding sel terdiri dari polisakarida dan protein bukan peptidoglikan
  4. Archaebacteria adalah organisme uniseluler prokariotik (tidak memiliki nukleus dan membran inti sel).
  5. Asam nukleat archaebacteria berupa RNA.
  6. Reproduksi dengan cara pembelahan biner, pembentukan tunas dan fragmentasi
  7. Archaebacteria Dapat tinggal di lingkungan ekstrim: lingkungan dengan derajat keasaman, suhu, dan kadar garam yang sangat tinggi.


Ciri-ciri Eubacteria / Bakteri Sejati

Kelompok kedua prokariota adalah nama yang lebih akrab bagi Anda. Kerajaan Eubacteria adalah bakteri yang sejati. Mereka memiliki peran yang tak terhitung jumlahnya, termasuk dekomposisi dan daur ulang nutrisi, pencernaan dan penyakit. Ciri-ciri umum eubacteria adalah sebagai berikut :
  1. Eubacteria adalah organisme Uniseluler prokariotik
  2. Eubacteria dinding sel yang tersusun atas peptidoglikan (gula dan protein)
  3. Ukuran tubuh Eubacteria sekitar 1 – 5 mikron
  4. Eubacteria Berkembang biak dengan cara membelah diri, konjugasi , transformasi  dan transduksi (pemindahan sebagian materi genetik melalui perantara virus).
  5. Eubacteria Dapat mensekresikan lendir ke permukaan dinding sel membentuk Kapsul.
  6. Ada Eubacteria yang memiliki flagel dan ada juga Eubacteria yang tidak memiliki flagel
  7. Eubacteria Hidup kosmopolitan, artinya dapat hidup di segala tempat, misalnya di darat, udara, air, bahkan tubuh manusia
  8. Apabila berada di lingkungan yang kurang menguntungkan Eubacteria akan membentuk endospora
  9. Ada Eubacteria yang memiliki klorofil, ada pula Eubacteria yang tidak berklorofil


Klasifikasi Archaebacteria dan Eubacteria

Untuk mengetahui klasifikasi tentang Archaebacteria dan Eubacteria silahkan pelajari kembali keduanya sebagai berikut :


Klasifikasi Archaebacteria

Untuk klasifikasi Archaebacteria dapat dibedakan sebagai berikut :

Metanogen
Kelompok ini merupakan archaebacter yang menghasilkan gas metana (CH4) dari hasil reduksi karbondioksida. Metanogen hidup di tempat dimana tidak terdapat gas oksigen yaitu di dasar lumpur atau dapat mengadakan simbiosis dengan hewan – hewan herbivora (sapi, rayap). Metanogen sangat tidak dapat mentolerir keberadaan oksigen. Organisme ini akan mati jika di habitatnya terdapat oksigen, meski hanya sedikit. Lingkungan anaerob obligat adalah syarat penting bagi kelompok metanogen. Kemampuannya menghasilkan metana, bakteri ini sering dimanfaatkan dalam pembuatan atau penguraian kotoran atau sampah untuk menghasilkan metana. Adapun ciri – ciri metanogen ialah :
  1. Anaerob obligat, Biasa ditemukan di dasar rawa atau di dalam perut hewan herbivora. Akan mati jika terdapat oksigen.
  2. Menghasilkan metana (CH4), Metana merupakan senyawa buangan dari metabolisme karbondioksida menjadi makanan. Metana buangan archaebacteria dapat dimanfaatkan sebagai bahan bahar (Biogas). 
  3. Berperan sebagai pengurai atau pembusuk

Halofil extreem
Kelompok ini merupakan penghuni wilayah lautan dengan kadar garam yang sangat tinggi seperti laut mati, Great Salt Lake (Bahasa Yunani, halo = garam; philos= penyuka). Beberapa spesies kelompok ini memiliki pigmen merah orodopsin. Sehingga koloni kelompok ini terlihat seperti buih yang berwarna merah keunguan. Berbeda dengan methanogen, kelompok halofil memerlukan oksigen untuk respirasi. Sementara kecukupan nutrisi diperoleh dengan melakukan fotosintesis dengan pigmen merah yang dimilikinya. Ciri – ciri halofil :
  1. Habitat: perairan dengan kadar garam tinggi
  2. Aerobik dan fotosintetik

Termofil extreem
Termofil berasal dari Bahasa Yunani, termo artinya panas, sementara phylos artinya ialah penyuka. Archae jenis ini dapat ditemukan di wilayah – wilayah terpanas bumi, dengan suhu optimum antara 60°C sampai 80°C. Kelompok Sulfolobus (bakteri Sulfur) misalnya ditemukan pada sumber mata air panas yang banyak mengandung sulfur atau di lereng gunung berapi dengan suhu optimum mencapai 105°C. Kelompok ini memiliki DNA dengan komposisi pasangan basa nitrogen sitosin – guanin yang banyak, sehingga tahan panas. Kelompok ini merupakan kemoautotrof. Ciri umum termofil ialah :
  1. Hidup di wilayah dengan suhu diatas 60°C
  2. Kemoautotrof


Klasifikasi Eubacteria

Eubacteria dapat diklasifikasikan menjadi beberapa macam. Dasar klasifikasinya pun juga berbeda-beda. Berikut ini adalah beberapa klasifikasi bakteri :

Berdasarkan caranya memperoleh makanan, bakteri dibedakan menjadi dua, yaitu bakteri autotrof dan

Bakteri Heterotrof ( berdasarkan makanannya )
Bakteri autotrof merupakan bakteri yang mampu  menyusun makanannya sendiri. Bakteri ini dapat dikelompokkan lagi menjadi 2, yaitu :
  1. Bakteri fotoautotrof, adalah bakteri yang energi untuk penyusunan makanannya berasal dari cahaya.
  2. Bakteri kemoautotrof, adalah bakteri yang energi untuk penyusunan  makanannya berasal dari reaksi-reaksi kimia. Contohnya adalah Nitrosomonas, Nitrosococcus, dan Nitrosobacter.

Bakteri heterotrof adalah bakteri yang tidak dapat menyusun makanannya sendiri.  Bakteri ini bergantung pada organisme lain untuk merawat makanannya. Bakteri heterotrof dapat dibedakan menjadi 2, yaitu saprofit dan parasit.

Berdasarkan kedudukan flagelnya

Berdasarkan kedudukan flagelnya, bakteri dapat dikelompokkan menjadi 4, yaitu monotrik, amfritik, lofotrik, dan peritrik.
  1. Monotrik merupakan bakteri yang mempunyai satu flagel. Flagel tersebut umumnya terdapat di bagian ujung tubuhnya.
  2. Amfritik, merupakan bakteri yang mempunyai flagel masing-masing satu pada kedua ujungnya.
  3. Lofotrik, merupakan bakteri yang berflagel banyak pada satu ujungnya.
  4. Peritrik, merupakan bakteri yang berflagel banyak pada semua sisi tubuhnya.

Berdasarkan kebutuhan oksigennya
Berdasarkan kebutuhan oksigennya, bakteri dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu bakteri aerob dan bakteri anaerob.
  1. Bakteri aerob adalah bakteri yang membutuhkan oksigen untuk  mendapatkan energinya. Contoh bakteri ini adalah Nitrosomonas dan Nitrosococcus.
  2. Bakteri anaerob adalah bakteri yang tidak membutuhkan oksigen untuk mendapatkan energinya. Contohnya adalah bakteri Micrococcus denitrificans dan Escerichia coli.

Berdasarkan Pewarnaannya Garam
Bakteri juga dapat dikelompokkan berdasarkan pewarnaan Gram menjadi dua, yaitu bakteri Gram positif dan bakteri Gram negatif.
  1. Dinding sel bakteri Gram positif sederhana dan mengandung peptidoglikan. Contoh bakteri ini adalah Micrococcus, Staphylococcus, dan Leuconostoc.
  2. Dinding sel bakteri gram negatif kompleks dan sedikit mengandung peptidoglikan. Contoh bakteri ini adalah Salmonella, Vibrio, dan Enterobacter.


Tabel Perbedaan Archaebacteria dan Eubacteria

Faktor Pembeda
Archaebacteri
Bakteri
Nukelus
Prokariota
Prokariota
Dinding Sel
Tidak mengandung peptidoglikan
Mengandung peptidoglikan
Lipid membran
Beberapa hidrokarbon
Hidrokarbon tak bercabang
RNA polimerase
Beberapa jenis
Satu jenis
Intron (bagian gen yang bukan untuk pengkodean)
Ada beberapa gen
Tidak ada
Respons terhadap antibiotik streptomisin dan kloramfenikol
Pertumbuhan tidak menghambat
Pertumbuhan menghambat

Untuk lebih jelasanya mengenai tabel perbedaan Archaebacteria dan Eubacteria silahkan baca penjelasan kami berikut :


  1. Dinding sel
    Jika dilihat dari dinding sel, Archaebacteria tidak mengandung atau tersusun dari peptidoglikan sedangkan Eubacteria mengandung atau tersusun dari peptidoglikan. Jadi bagi Anda yang ingin menentukan apakah itu bakteri Archaebacteria atau Eubacteria, lihat susunan dinding selnya terlebih dahulu.
  2. Lipid membran
    Dilihat dari lipid membrannya, hidrokarbon yang ada pada Eubacteria tidak bercabang. Sedangkan hidrokarbon yang ada pada Archaebacteria sebagian bercabang. Selain dinding sel, Anda juga dapat melihat jenis kelompok bakteri yang mana dari lipid membran.
  3. RNA polimerase
    Archaebacteria terdiri dari beberapa jenis sedangkan Eubacteria hanya terdiri dari satu jenis saja. Jadi sudah dapat dipastikan bahwa bakteri yang memiliki RNA polimerase satu jenis adalah ee dan yang lebih dari satu adalah Archaebacteria.
  4. Intron
    Intron merupakan bagian dari gen yang tidak untuk pengkodean. Untuk Eubacteria sendiri tidak memiliki intron sedangkan Archaebacteria memiliki intron pada beberapa gen.
  5. Respons
    Bakteri juga memiliki respons terhadap antibiotik streptomisin dan juga kloramfenikol. Untuk bakteri yang pertumbuhannya tidak terhambat maka bakteri tersebut merupakan Archaebacteria. Sedangkan bakteri yang memiliki pertumbuhan terhambat maka itu merupakan bakteri Eubacteria. 


Contoh Archaebacteria dan Eubacteria

Untuk lebih memahami artikel kami tentang Archaebacteria dan Eubacteria silahkan simak contoh contohnya berikut ini :


Contoh Archaebacteria

  1. Metanogen; Adalah kelompok archaebacteria yang habitatnya ada di daerah dengan konsentrasi metana, gas hidrogen, asam asetat, dan karbon dioksida yang tinggi untuk bermetabolisme. Contoh archaebacteria metanogen adalah Archaebacteria metanogen dapat dimanfaatkan dalam produksi biogas dan pengolahan limbah.
  2. Halofil; Adalah kelompok archaebacteria yang habitatnya ada di daerah berkadar garam tinggi, bahkan kadar garamnya bisa melebihi garam laut. Contoh archaebacteria halofil adalah Archaebacteria halofil dapat dimanfaatkan dalam fiksasi karbon untuk membantu tanaman dan cyanobacteria hidup.
  3. Thermoasidofil; Adalah kelompok archaebacteria yang habitatnya ada di daerah dengan suhu panas dan kandungan asam yang ekstrem mencapai hingga 60 – 90 derajat celsius dan pH mencapai 2 – 4. Contoh archaebacteria thermoasidofil adalah Thermoplasma, yang dapat mudah ditemukan di kawah vulkanik mengandung asam sulfat.

Contoh Eubacteria

Berikut Contoh Eubacteria yang dapat kami bagikan untuk kalian.

Bacillus anthracis
Bacillus anthracis adalah Eubacteria dengan ukuran panjang 3-5 mikrometer, lebar mereka adalah 1-1,2 mikrometer. Bacillus anthracis adalah bakteri Gram-positif dengan tubuh berbentuk batang. Casimir Davaine dan Aloys Pollender mendapat penghargaan dengan menemukan Bacillus anthracis. Bakteri ini mensintesis protein yang disebut D-glutamat. Ini adalah satu-satunya Eubacterium yang mampu menghasilkan kapsul protein. Bacillus anthracis tumbuh baik pada lingkungan aerobik dan anaerobik di laboratorium. Asal nama anthracis dapat ditelusuri kembali dari kata Yunani, anthrakis. Anthrakis berarti batubara. Infeksi bakteri ini menyebabkan luka kulit berwarna hitam, yang mungkin merupakan alasan mengapa Bacillus anthracis disebut anthrakis.

Escherichia coli
Diberi nama berdasarkan penemunya Theodor Escherichia, Escherichia coli adalah bakteri Gram negatif dengan tubuh berbentuk batang. Escherichia coli O157: H7 bertanggung jawab untuk menyebabkan keracunan makanan pada manusia. Jika tidak, bakteri ini tidak berbahaya dan tidak menimbulkan masalah kesehatan lainnya. Escherichia coli tumbuh di usus bawah endotermik – organisme berdarah panas. Bakteri menguntungkan yang ditemukan dalam perut hewan-hewan berdarah panas membantu dalam memperoleh vitamin K2. Bakteri-bakteri bermanfaat juga membantu dalam menghilangkan bakteri patogen dari tubuh kita. Escherichi coli jenis virulen menyebabkan infeksi saluran kemih, dan meningitis neonatal gastroenteritis; Escherichi jenis coli yang menguntungkan digunakan sebagai agen probiotik untuk tujuan pengobatan.

Clostridium tetani
Bakteri ini Gram positif dan anaerobik di alam. Bakteri Clostridium tetani memiliki tubuh berbentuk batang dan penampilan pewarnaan gram mereka menyerupai bentuk stik drum. Pembuatan tetanospasmin, suatu toksin biologis merupakan fitur karakteristik bakteri ini. Mereka tidak bisa bertahan di hadapan oksigen selama fase pertumbuhan vegetatif. Pergerakan dilakukan dengan cara flagela. Clostridium tetani sensitif terhadap panas. Luka terbuka pada kulit / goresan digunakan oleh bakteri patogen ini sebagai pembuka untuk memasuki tubuh inang. Organisme ini berkembang biak setelah memasuki tubuh inang. Seiring dengan tetanospasmin, Clostridium tetani menghasilkan eksotoksin yang disebut tetanolysin.

Clostridium botulinum
Bakteri ini berbentuk batang yang anaerob obligat di alam, yang berarti oksigen beracun untuk mereka. Bakteri ini ditemukan dalam kondisi rendah oksigen, terutama di bawah sedimen laut. Ini Clostridium botulinum membentuk spora untuk bertahan hidup dalam kondisi iklim yang merugikan. Emile van Ermengem pertama kali diidentifikasi dan diisolasi bakteri pada tahun 1895. Clostridium botulinum bertanggung jawab untuk menyebabkan botulisme. Pada botulisme, sistem saraf lumpuh oleh neurotoksin yang dihasilkan oleh bakteri. Gejala botulisme dapat diamati hanya dalam waktu 12-36 jam setelah seseorang mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi dengan neurotoksin.

Borrelia burgdorferi
Borrelia burgdorferi adalah organisme penyebab penyakit Lyme. Bakteri ini umumnya ditemukan di Amerika Utara. Ini adalah bakteri patogen dengan spiral berbentuk tubuh. Ini Borrelia burgdorferi adalah bakteri ganda membraned dengan dua flagela. Ini Barbour-Stoenner-Kelly (BSK) media yang digunakan untuk pertumbuhan bakteri Borrelia burgdorferi di laboratorium. Bakteri ini termasuk dalam genus spirochaetes (Spirochetes). Sel-sel dari bakteri spirochete adalah heliks dalam bentuk. Spirochetes adalah kelas bakteri chemoheterotrophic. Panjangnya berkisar 5-250 mikrometer. Bakteri ini bergerak dari satu tempat ke tempat lain dengan cara memutar sebuah, gerakan berputar, filamen aksial membantu bakteri dalam gerakannya. Ini Borrelia burgdorferi mereproduksi secara vegetatif melalui pembelahan biner.

Helicobacter pylori
Bakteri ini ditemukan dalam saluran pencernaan manusia. Bahkan, ditemukan dalam saluran pencernaan bagian atas. Bakteri dapat ditemukan di usus sekitar 50% orang di dunia. Helicobacter pylori adalah organisme penyebab pada 80% kasus ulkus lambung di dunia. Infeksi Helicobacter pylori kebanyakan ditemukan di negara-negara dengan sanitasi yang buruk. Mereka yang terinfeksi oleh Helicobacter pylori rentan untuk mengembangkan kanker perut. Gejala utama infeksi adalah sakit perut dan gastritis. Bakteri Gram-negatif ini berbentuk heliks, panjang dan diameter 3 mikrometer dan 0,5 mikrometer masing-masing.

Tolypothrix
Tolypothrix adalah genus cyanobacteria. Hal ini dikelompokkan dalam kelas Cyanophyceae. Bakteri tolypothrix adalah berbentuk benang di alam; helai mereka berbentuk silinder. Bakteri ini berwarna kehijauan, kecoklatan atau kekuningan. Ini termasuk tolypothrix dan bakteri dari genus, Scytonema mirip dalam penampilannya. Bakteri tolypothrix tumbuh dalam badan air, namun, dekat pantai. Mereka ditemukan mengambang di air atau menempel pada batu dan tanaman. Ada beberapa jenis bakteri yang tumbuh tolypothrix dalam tubuh air alkali. Namun, beberapa dari mereka juga ditemukan dalam kulit pohon, tanah basah, batu basah, dll warna hijau tolypothrix adalah karena klorofil. Oleh karena itu, tolypothrix, seperti cyanobacteria lain, melakukan fotosintesis dan menyiapkan makanan mereka sendiri.

Clostridium perfringens
Bakteri ini Gram positif, berbentuk batang yang dikenal untuk membentuk spora. Ini Clostridium perfringens umumnya ditemukan dalam sedimen laut dan daerah vegetasi membusuk. Ini mungkin atau mungkin tidak patogen. Infeksi Clostridium perfringens jarang menyebabkan masalah kesehatan. Jika tidak, menelan bakteri ini umumnya tidak berbahaya. Infeksi bakteri ini dapat diamati dalam bentuk penyakit seperti nekrosis, gangren gas, emphysematous kolesistitis, bakteremia, dll Koloni bakteri Escherichia coli yang dibangkitkan pada pelat agar menunjukkan margin kasar dan tidak teratur.

Demikian artikel tentang Archaebacteria dan Eubacteria yang sempat kami bagikan pada kesempatan ini dan semoga apa yang kami bagikan bisa membantu dan jangan lupa baca juga :