Kumpulan Cerita Horor, Seram, Menakutkan dam Membuat Merinding Terbaru

Ideparokie.com - Kumpulan Cerita Horor, Seram, Menakutkan dam Membuat Merinding Terbaru kami ambil dari berbagai sumbar dan kamikumpulkan disini agar bisa memuaskan pembaca.

Di Balik Misteri Lagu Nina Bobo

Nina bobo, oh.. nina bobo..
Kalau tidak bobo di gigit nyamuk...

Pasti pembaca tahu dong dengan sepenggal lirik lagu di atas? Ya.. Itu adalah lagu yang berjudul Nina Bobo dan lagu tersebut biasa nya di nyanyikan disaat kita mau tidur ketika kita masih kecil (anak-anak).

... Lagu tersebut sudah ada sejak nenek moyang kita. Tapi tahu kah anda di balik lagu yang cukup sederhana itu ada kisah tragis di balik ceritanya? Kelihatan memang gak ada yang ganjil dari lagu tersebut, tapi pernahkah anda coba bertanya pada seseorang tentang siapakah gadis bernama Nina dari lagu tersebut?

Beberapa dekade setelah kedatangan Cornelis de Houtmen di Banten, warga negara Belanda dari berbagai kalangan sudah memenuhi pulau Jawa dan pulau-pulau lainnya di Indonesia. Alkisah seorang gadis belia asal Belanda bernama Nina Van Mijk, gadis yang berasal dari keluarga komposer musik klasik sederhana yang menetap di Nusantara untuk memulai hidup baru karena terlalu banyak saingan musisi di Belanda.

Hidup Nina berjalan normal seperti orang-orang Belanda di Nusantara pada umumnya, berjalan-jalan, bersosialisasi dengan penduduk pribumi, dan mengenal budaya Nusantara. Kedengaran indah memang, tapi semenjak kejadian aneh itu keadaan menjadi berbanding terbalik. Kejadian aneh itu terjadi pada suatu malam badai, petir gak henti-hentinya saling bersahutan. Dari dalam kamarnya Nina menjerit keras sekali, di ikuti suara vas bunga yang terjatuh dan pecah.

Ayah, Ibu serta pembantu keluarga Nina menghambur ke kamar Nina. Pintu terkunci dari dalam, akhirnya pintu itu didobrak oleh ayah Nina. Dan satu pemandangan mengerikan disaksikan oleh keluarga itu, terlihat diranjang tidur Nina melipat tubuhnya kebelakang persis dalam posisi kayang merayap mundur sambil menjerit-jerit dan sesekali mengumpat-ngumpat dengan bahasa Belanda. Rambutnya yang lurus pirang menjadi kusut gak keruan, kelopak matanya menghitam pekat. Itu bukan Nina, itu adalah jiwa orang lain didalam tubuh Nina. Nina Kerasukan!
Kumpulan Cerita Horor, Seram, Menakutkan dam Membuat Merinding Terbaru
Kumpulan Cerita Horor, Seram, Menakutkan dam Membuat Merinding Terbaru
Sudah seminggu berlalu semenjak malam itu, Nina dipasung didalam kamarnya. Tangannya diikat dengan seutas tambang. Keadaan Nina makin memburuk, tubuhnya semakin kurus dan pucat, rambut pirang lurusnya sudah kusut gak karuan. Ibu Nina hanya bisa menangis setiap malam ketika mendengar Nina menjerit-jerit. Ayah Nina gak tahu harus berbuat apa lagi, karena kejadian aneh seperti ini gak pernah diduganya. Karena putus asa dan gak tahan melihat keadaan anaknya, ayah Nina pulang ke Belanda sendirian meninggalkan anak dan istrinya di Nusantara. Pembantu rumahnya pun pergi meninggalkan rumah itu karena takut. Tinggallah Nina yang dipasung dan Ibunya disatu rumah yang gak terurus.

Kembali lagi pada satu malam badai namun aneh, saat itu terdengar Nina gak lagi menjerit-jerit seperti biasanya. Kamarnya begitu hening, perasaan ibu Nina bercampur aduk antara bahagia dengan takut. Bahagia bila ternyata anaknya sudah sembuh, tetapi takut bila ternyata anaknya sudah meninggal.

Ibu Nina mengintip dari sela-sela pintu kamar Nina, dan ternyata Nina sedang duduk tenang diatas ranjangnya. Gak berkata apa-apa tapi sejurus kemudian dia menangis sesengukan. Ibu Nina langsung masuk kedalam kamarnya dan memeluk Nina erat-erat. Sambil menangis nina berkata:
“Ibu, aku takut..”
Lalu Ibunya menjawab sambil menangis pula.
“Gak apa nak, Ibu ada disini. Kamu gak perlu menangis lagi, ayo kita makan. Ibu tahu kamu pasti lapar..”
“Aku gak lapar, tetapi bolehkah aku meminta sesuatu?”
“Apapun nak..! apapun..!!”
“Aku ngantuk, rasanya aku akan tertidur sangat pulas. Mau kah ibu nyanyikan sebuah lagu pengantar tidur untukku?”
Ibu Nina terdiam, agak sedikit gak percaya dari apa yang didengar oleh anaknya. Tapi kemudian ibu Nina berkata sambil mencoba tersenyum.
“Baiklah, ibu akan menyanyikan sebait lagu untukmu..”
Saya yakin anda sudah tahu lagu apa yang dinyanyikan oleh Ibu Nina. Setelah sebait lagu itu Nina terlelap damai dengan kepala dipangkuan ibunya, wajah anggunnya telah kembali. Ibu Nina menghela nafas lega, anaknya telah tertidur pulas. Tapi..
Nina gak bergerak sedikit pun, nafasnya gak terdengar, denyut nadinya menghilang, aliran darahnya berhenti. Nina telah tertidur benar-benar lelap untuk selamanya dengan sebuah lagu ciptaan ibunya sebagai pengantar kepergian dirinya setelah berjuang melawan penderitaan.

Konon katanya ketika anda menyanyikan lagu ini untuk pengantar tidur anak-anak anda yang masih kecil (bayi), tepat ketika anda meninggalkan kamar tempat anak anda tertidur. Nina akan datang ke kamar anak anda dan membuat anak anda tetap terlelap hingga keesokan paginya dengan sebuah lagu

Kantin Berhantu

Genre : Fiksi Horor   
Penulis Ersa Anindra

Sebenarnya aku malas kembali ke sekolah sore ini, jadi aku sengaja membolos ekstra kulikuler yang diadakan sekolah khusus untuk siswa-siswa yang mempunyai nilai dibawah standar alias tidak tuntas. Aku baru tiga bulan pindah sekolah, jadi perlu sedikit beradaptasi dengan kurikulum yang ada disini. Dari rumah aku memang hadir di sekolah tapi bukan di ruangan kelas, melainkan di kantin. Kebetulan perutku lapar sebab dari siang belum ada masuk apa-apa.

Aku melenggang santai ke kantin, dan kulihat ada seseorang disana, ia tampak sibuk merapikan dan menata meja dan kursi. Wangi aroma masakan mengambang diudara membuat cacing diperutku menari kegirangan menabuh dinding perut. Aku duduk di kursi yang sudah terlihat bersih. Ternyata sepi sekali suasana di kantin itu, kulihat banyak tumpukan mangkok-mangkok bekas makan yang masih berada diatas meja-meja lain.

“Jangan duduk dibangku itu!”larangnya tegas.
Raut wajah tukang kebun itu sangar, lirikannya benar-benar membuatku tak nyaman. Tapi aku tak peduli, apa istimewanya sih bangku dan meja ini untuknya. Lagi pula apa urusannya sama dia? Lantas mau duduk dimana lagi? Dia bukan pemilik kantin ini koq sok ngatur, pasang tampang angker begitu! Lagian dia melarangku duduk dibangku ini tanpa alasan yang jelas, aku tetap saja ngotot duduk meski ia melirikku untuk yang kesekian kali lalu pergi meninggalkan kantin ke arah tempat parkir. Belum apa-apa sudah bikin nyesek! Rutukku.

Mendung sudah menggelantung, suasana menjadi suram dan gelap. Hawa dingin menambah perih lambungku, seorang cewek kira-kira seumurku menghampiriku. “Mau pesan apa, mas?”tanyanya ramah namun wajahnya menunduk hingga sebagian wajahnya tertutupi poni.

Tiba-tiba kilat menyambar dan disusul suara petir yang menggelegar, membuat kami berdua terlonjak kaget. Ia tampak pucat pasi, tangannya yang memegang bahuku terasa sedingin es batu. “Eh..maaf, mas!”gugupnya. Aku hanya mengangguk maklum. Tadinya aku berniat mengeluarkan hanphoneku dari saku. Akhirnya kuurungkan saja setelah aku memesan satu mangkok mie instan padanya. “Jangan mie goreng ya, telornya setengah matang lho.” pesanku mengingatkan.

Aku sendiri dari dulu, jarang ke kantin sekolah, dan semenjak pindah sekolah baru kali ini saja masuk kesini. Tak lama hujan turun dengan lebat, sampai jam ekstra kurikuler sekolah bubar kami masih terkurung disana, saat kantin telah sepi. Angin berdesir membuat suasana menjadi lain, ada satu kata bahwa saat ini aku butuh sesuatu yang hangat, ini membuat imajinasi mengembara kemana-mana. Kemudian aku tak banyak berbincang dengan Wiwik, begitu nama pelayan kantin itu.

Gadis itu terlalu pendiam namun menarik, selalu menunduk hanya sekali-sekali ia mengangkat wajah manisnya, hanya menjawab pertanyaanku seperlunya, singkat-singkat saja. Dan yang aku tahu ia diajak budenya ikut bekerja menjaga kantin itu setelah lulus SMP.

Azan magrib lamat-lamat terdengar setelah hujan mulai reda. Diatas meja sisa kuah mangkok mie instan menjadi saksi bisu, ketika Wiwik yang meringkuk kedinginan mendekap kakinya diatas kursi plastik tersandar lelap dibahuku. Tak butuh waktu lama untuk menciptakan debar-debar di dadaku, mungkin aku harus berterima kasih sekali pada musim hujan kali ini.

Tiba-tiba ada seorang lelaki berpakaian rapi, tampaknya ia guru baru di sekolahku, sebab aku tak mengenalnya. Kemudian lelaki itu memanggilnya, gadis itu terkejut dan menolak saat lelaki itu mengajaknya pergi. Tapi dengan kasar lelaki itu menyentaknya hingga berdiri, kemudian ia berbisik mengancam sambil menyeringai licik, terbukti Wiwik berubah tambah pucat pasi ketakutan mengikuti lelaki itu, mereka masuk ke gudang peralatan sekolah yang letaknya di samping ruang UKS.


Aku memanggil Wiwik tapi seolah tak mendengar. Aku mencoba menghalangi langkah Wiwik untuk mencegahnya, firasatku merasa akan terjadi hal yang tidak terhadap gadis itu. Tapi tubuhnya menembus tubuhku. Aku benar-benar kaget, dan aku berbalik mengikuti langkah mereka. Sebab beberapa kali kutangkap tangan Wiwik tapi hanya mengenai udara kosong, seakan-akan tubuhnya tembus pandang.

Akhirnya aku tertegun, apa yang mereka lakukan? Kenapa tubuhku terasa berat tak bisa bergerak, batinku panik. Aku hanya bisa mematung, ketika dua puluh menit kemudian, lelaki itu keluar dengan tersenyum puas, sementara Wiwik keluar tempat itu tertunduk lesu lalu duduk dibangku yang tadi kududuki sambil menangis.

Aku bisa tak mengerti apa yang telah terjadi dan aku masih tidak dapat bergerak, kalau saja suara petir yang menggelegar dan kilatan cahayanya yang membelah langit menyadarkanku. Tiba-tiba pemandangn kantin itu berubah menjadi sepi dan tak ada bekas-bekas kegiatan terjadi disitu. Aku jadi ketakutan dan buru-buru berlari pulang.

Aku melarikan sepeda motorku meninggalkan tempat itu. Aku pulang dengan setengah melamun, kejadian hari ini benar-benar cukup megejutkan. Aku melihat cuaca mulai tak bersahabat. Mendung benar-benar melayang seperti kabut hitam yang mengejarku seakan ingin menelanku kedalamnya, suara guruh gemeretak dilangit, kilat mulai bersahutan menyambar-nyambar tampaknya hujan akan turun lagi. Kupacu sepeda motorku dijalan raya agar segera sampai kerumah. Tinggal satu tikungan lagi. Teeeeeeet! Klakson panjang truk yang melintas membuat sepeda motorku sedikit oleng. Aku tak peduli makian keneknya. Aku ingin segera sampai ke rumah tanpa harus kebasahan.

Begitu aku datang, si mbak yang berkerja membantu membersihkan rumah dan mencuci pamit pulang. Mama dan papa masih belum pulang. Aku langsung menuju ke kamarku, merebahkan diri, dan benar saja hujan deras sekali. Sampai-sampai kaca jendelaku berkabut, tak dapat melihat pemandangan dan keadaan diluar sana. Aku mulai mengantuk, dan tak lama aku pun tertidur pulas.

Mendadak aku merasa ada tangan dingin meraba leherku. Aku menggeliat, dan menepis tangan itu, kemudian ia mulai lagi meraba bagian belakang telingaku, aku segera menangkapnya dan kucekal erat. Kena kau! Pikirku sambil berbalik kearahnya. Ternyata aku menangkap udara kosong tak ada siapa-siapa, aku pikir itu tadi ulah mama yang kadang juga suka menjahiliku. Tiba-tiba sekelebat bayangan masuk kedalam lemari. Aku beranjak mengejar dan membuka lemari.

ARRRRGGGHHHHHKKKRRKK!
Jerit serak itu keluar dari tubuh pucat dalam lemari dengan wajah nyaris hancur dan berbau busuk, matanya putih tubuhnya berkulit pucat dan terkelupas disana sini, ada bekas darah kering dibajunya yang robek besar. Tubuhnya seperti habis disayat-sayat orang! Aku terjengkang kaget, seluruh tubuhku lemas gemetar ia maju ke arahku, semakin mendekat, mulutku kaku tak mampu berteriak, hanya mendelik ngeri ketika ia mulai menangkap kedua tanganku, nafasnya mendengus terdengar begitu berat dan ia menganga lebar mengeluarkan bau yang cukup busuk dari mulutnya. Aku melihat banyak belatung-belatung kecil keluar dari rongga tenggorokan dan merayap dilidahnya. TIDAAAKKK!!!! Aku terbangun dengan keadaan basah kuyup berkeringat!

Aku menyalakan lampu kamar dan berlari keruang tengah menyalakan home theatre dan menatap layar LED, menyetel konser musik cadas sekeras-kerasnya, biar saja hingar bingar memekak telinga. Sampai akhirnya kulihat dari balik jendela kulihat kilat lampu mobil mama masuk garasi. Baru aku lega dan mulai menonton acara televisi.

Mama mengusap lembut kepalaku dan mengajakku makan, kulihat ia membawa tas belanjaan besar, pasti beli makanan siap saji lagi, kali ini aku menurut saja. Kemana saja mama pergi kuikuti. Bahkan aku rela menjadi pendengar setia mama bercerita dikamarnya. Aku mendengarkan sambil tiduran disamping mama. Akhirnya, aku benar-benar tertidur dikamarnya.

Besoknya aku berangkat lebih awal, aku duduk saja di dalam kelas tak ingin kemana-mana, sambil memainkan game dihandphone ku. Kulihat lagi ada bayangan berkelebat dan kudengar langkah seperti diseret-seret dibelakangku. Aku tak berani menoleh, aku diam saja seolah tak mendengar. Kupasang headsetku mencari musik yang bisa menghiburku sambil melanjutkan permainan.

Aku merasa hawa aneh perlahan mengalir dari belakang telingaku, dan aku merasa kudukku merinding, kepalaku jadi membesar. Kumohon jangan ganggu aku lagi... Pergi! Pergi! Pergi sana jauhi aku! Jeritku dalam hati. Mendadak ada langkah kaki licah berlari menghampiriku dan memeluk pundakku dengan mesra. Femi menggelendot manja, sungguh aku risih, tapi kubiarkan saja.

Aku menatapnya sejenak tersenyum tipis. Kudengar beberapa siulan nakal dari teman-temanku yang masuk kelas, ini benar-benar membuatku jengah. “Femi....please.”, mohonku menatap agar ia menjaga jaraknya jangan memamerkan kemesraan yang tak perlu. Wajah Femi kelihatan dongkol tapi ia menurut saja. Fiuuuu.....

Pada jam istirahat aku duduk sendiri dikelas, tiba-tiba ada sebuah kekuatan yang mengontrol tubuhku bergerak diluar sadarku berjalan mendatangi kantin, aku mencoba berbalik lagi kapan perlu lari, tapi mulutku terkunci rapat dan anggota badanku tak mematuhi perintah otak kecilku, aku berjejal dengan para siswa yang masuk kesana dan duduk ditempat yang kemarin.

Karena tersenggol seorang siswa yang berdesakan, headset yang kukantongi jatuh, bisa gawat jika terinjak kaki orang, pikirku. Kali ini seolah lepas dari kontrol seseorang, tubuhku bergerak bebas kembali. Buru-buru aku menunduk mengambil headsetku agar aku bisa kabur dengan segera. Entah kenapa saat aku berdiri, tiba-tiba kantin itu menjadi sunyi. Tak ada siapa-siapa.

Kulihat sekitarku di meja-meja yang tadinya penuh orang menjadi kosong. Aku melihat ada kepulan dari panci, yang tengah dibuka, seorang gadis dengan jepit ungu menuang kuah soto ke dalam mangkok didepannya. Wiwik! Aku berdiri akan berlari tapi seorang lelaki yang kemarin berpakaian olahraga mendekatinya, dan membisiki sesuatu ditelinganya, ia menyeringai buas melihat Wiwik menunduk lesu menahan tangis.

Ketika Wiwik bergeming ia menyentak kasar tubuh gadis itu. Dengan langkah enggan ia mengikuti guru itu ke gudang peralatan sekolah. Entah kenapa, ada kekuatan yang menyeretku mengikuti mereka, pintu itu terkuak dengan sendirinya. Aku masuk kedalam, seperti ada suara menangis dibalik tumpukan perabot sekolah, banyak sarang laba-laba dan debu yang menempel disana sini. Tiba-tiba suara tangisan itu terhenti beberapa saat. Aku menemukan Wiwik tengah menunduk memegang sebilah pisau dapur, dihadapan tubuh lelaki yang berpakaian olahraga, lelaki itu bersimbah darah dalam keadaan setengah telanjang!

Wiwik berpaling menatapku dengan mata yang aneh, tiba-tiba wajahnya berubah menjadi mengerikan, biji matanya menggelantung keluar dan tubuhnya pucat membusuk, ada beberapa dagingnya rontok saat ia beranjak ke arahku. Aku menjerit! terlonjak sadar dengan nafas tersengal-sengal, kulihat banyak siswa-siswi merubungku, mataku mengerjap bingung.

“Wah sudah sadar juga dia akhirnya!”seru salah seorang guru yang menggosok tubuhku dengan minyak kayu putih. “Dimana aku, kenapa aku ada disini?”tanyaku kebingungan. “Kamu tadi berteriak-teriak keras, dan tiba-tiba saja jatuh pingsan, tergeletak dilantai kantin”, jelas pak guru yang mengoleskan minyak kayu putih tadi. “Ayo anak-anak! sekarang kembalilah ke kelas masing-masing.”perintah seorang guru perempuan yang masuk ke ruangan itu. Rupanya aku berada diruangan UKS.

Aku bergegas menuju ruang kelasku, disana Femi sudah menungguku diambang pintu dengan senyum ramah seperti biasa. “Kamu sudah siuman, Rud? Kamu pingsan lama sekali”tanyanya cemas mengekor dibelakangku dengan setia. “Ya sedikit lemas...” sahutku lemah, kuhempaskan pantatku dibangku kayu, kulihat Femi sudah merapikan isi ransel sekolahku. Perhatian sekali dia. “Makasih…”ucapku pelan. Berarti tadi itu cuma mimpi ya?..... syukurlah kalau begitu.

Kelas sudah sepi. Aku tertunduk lesu menatap meja kayu didepanku. Femy menatapku lekat, “Rud...?” panggilnya lembut seperti biasa. Memang telah lama aku tahu Femi menyukaiku tapi aku kurang suka dengan sifatnya yang terlalu gampangan pada setiap lelaki. Tapi aku membisu, pura-pura tak mendengar, bahkan ketika Femy duduk disebelahku, tubuhnya semakin merapat lantaran aku tak kunjung menoleh. Dia berdehem, sambil berusaha menawarkan perasaannya yang berdebar-debar.

“Rudiii....?” rengeknya lagi dengan manja. “Hujan..., dingin banget” desis Femy lirih menatap jendela merangkul lenganku. Ya memang hujan turun lebat sekali, seakan rinai-rinai yang jatuh itu menyesap ke dalam dada, hawa dingin benar-benar menyusupi pori-pori hingga menciptakan geletar getir, gundah seakan menyelubungi akalku.

“Maaf aku...aku agak kurang enak badan”kataku beringsut. Tapi Femi justru mengusap pipiku, hujan itu dan perasaan ini membawaku terbawa olehnya. Aku suka cara dia memperlakukanku, begitu lembut telunjuknya menari menelusuri lekuk wajahku dari hidung dan telunjuk mungilnya mengusap bibirku dengan sentuhan hangat, dalam sekejap bibir kami saling melumat.

Mendadak, aku melihat sesosok perempuan berdiri di depan kelasku dengan wajah penuh kebencian melihat ulah kami berdua, kebetulan posisiku mengarah ke pintu. Aku melihat wajah yang geram itu berbarengan dengan kilatan cahaya petir. Wiwik memergokiku, kemudian menghilang!

Kudorong pelan tubuh Femi, “Ada orang....”bisikku meredam rasa takutku sekaligus menghentikan aksinya yang mulai berani. “... maaf, Fem. Aku tak ada maksud apa-apa, aku terlalu terbawa suasana....”sesalku. Femi segera berdiri menyampirkan tasnya dibahu, kutangkap tangannya. “Kita pulang bareng!”usulku dan ia mengedipkan matanya kearahku, melenggang keluar kelas.

Sialan!!! cewek itu membuatku mengikuti permainannya! Tapi tadi itu apa benar-benar Wiwik, raut wajahnya agak aneh. Aku merasa ada yang mengikutiku, perlahan menoleh kebelakang, kulihat ada beberapa siswa yang ruang melewati kelasku menuju ke arah pelataran parkir, sambil menggendong ransel aku menuju arah yang sama. Femi kembali meraih lenganku, menggandeng mesra. Biarlah, daripada digandeng setan.

Siang itu di depan sekolah, aku melihat tukang kebun yang menegurku tempo hari, sengaja menunggu ditempat tersembunyi dekat pagar sekolah, dibawah sebuah pohon akasia besar dan pohon-pohon kembang sepatu yang menyemak tak terawat. Ia melambaiku, kali ini ia tersenyum dengan wajah ramah. Ku hampiri dia sejenak. Tiba-tiba tangannya menjambak rambut Femi yang ada dibelakangku.

Aku terpekik kaget, sama kagetnya dengan Femi. Kulihat ada tubuh yang tersungkur jatuh tergolek direrumputan sesaat, kemudian lenyap! Itu Wiwik! Bukannya tadi yang dijambak Femi? Kutoleh kebelakang, Femi masih duduk dan sebelah tangannya masih memeluk perutku. “Jangan kuatir, mereka tak akan mengganggumu lagi. Kini aku bisa leluasa menjaga kalian dari gangguan usil roh gentayangan di sekolah ini”kata bapak itu dengan suara berat dan serak.“Maafkan saya pak, kemarin saya tidak mematuhi larangan bapak.”sesalku. Ia mengangguk kemudian raib. Aku keheranan.

“Telponan sama sapa siiih…, lama banget!”rajuk Femi. “Aku lagi ngobrol sama tukang kebun sekolah koq dibilang nelpon, aneh!”kesalku. Dia turun dari sepeda motor melihat-lihat kesana kemari, Femi mengernyitkan alisnya bergidik lalu naik lagi ke sepeda motor, “Buruan pulang!”pagutnya erat ketakutan. “Pak Umar kan sudah meninggal tiga bulan yang lalu.”jelasnya. Lantas tadi itu siapa? Hantu?!! pikirku. Seketika bulu kudukku meremang, kupacu laju motorku meninggalkan tempat itu. Sepertinya aku harus pindah sekolah lagi. (TAMAT)

Arwah Yang Mengikutiku

Malam minggu biasa gua dan teman teman buat kumpul alias melepas kangen dengan ngopi dan ngobrol di warung langganan gua, 
Gua kenalin 3 teman gua sebut aja cecep, julung dan kebo (nama disamarkan) lagi asyik asyik kumpul tiba tiba kebo keinget “bro, nie kan malmingg biasanya di alun alun kota banyak cewek cantik kesana yuk?”
Cecep langsung nyaut “bener juga lu bro, ayo?”
Gua pun ikut komen “malas bro enakan juga disini”
Eh, julung ikut ikutan “fio, kenapa mesti tiap nyari cewe lu yang selalu malas emang lu betah jadi jomblo ? masih muda suka ngejomblo?”
Gua jawab “ya, udah deh tapi gua gagk mau godain cewe lo ya? Kalian aja, biar gua Cuma liat.”
Serentak jawab “oke deh”

Akhirnya kita meluncur ke alun alun kota dengan 4 motor masing masing, di perjalanan kita terhenti karna gua liat ada orang rame rame kumpul dijalan , karna penasaran gua pun liat dengan teman teman gua.
Dan rupanya ada cewe yang baru aja kecelakaan sampe kepalanya berdarah parah kayanya udah gagk ada alias tewas di tempat. Gua yang liat muka tu cewe Cuma bisa diam dan bicara dalam hati “sayang banget nie cewe, cantik tapi umurnya pendek seandainya ja dia masih idup gua pasti mau jadi pacar lu”

Biasanya gua jarang puji cewe dengan kata cantik tapi khusus malam itu hati gua tulus ngomong gitu karna emang tu cewe cantik.
Sampai lah kita ke alun alun dan entah kenapa tiba tiba hujan turun . ketemu cewe enggak eh malah kehujanan lagi karna udah terlanjur basah akhirnya kita mutusin buat ke rumah cecep selain karna orang tuanya keluar kota jadi kita bisa nginep.

Anak anak langsung main PS biasa masih pikiran labil teman gua. Aku mutusin ke teras buat dengerin musik sambil meratapi nasib korban kecelakaan tadi, enak enak denger lagu gagk nyangka kalau teman teman gua udah pada molor, yupz, waktu udah menunjukkan pukul 23.30 tapi gua tetap aja enjoy dengerin lagu dan anehnya tiba tiba hawanya jadi dingin gua pikir mungkin karna hujan tadi tapi kok tiba tiba gua merinding, pas gua buka mata gua ..

Gua lihat ada cewe baju putih mukanya tertutup rambut hitamnya yang panjang dan banyak darah di bajunya berdiri di depan mata gua, sontak gua kaget setengah mati, 
Hancrit apa nie?” tapi gua berusaha kendaliin situasi dengan tenang gua berdiri sambil bilang “aduh, udah malam ngantuk banget (sambil celingak celinguk kanan kiri) jalan udah sepi lagi. 
Gua pura pura gagk ngelihat ada setan di depan gua lalu gua masuk rumah dengan tenang walaupun sebenarnya tadi gua udah mau pingsan tapi syukur gagk terjadi apa apa,

Gua menuju ke anak anak yang tidur di depan TV dan gua ikut berbaring tapi pengalaman seram ini baru aja dimulai. Kita berempat sontak kebangun waktu ada ketawa seorang cewe yang cekikikan keras banget.
Cecep teriak “suara apaan tu?
Di sautin sama julung “ya apaan ya serem banget, lu kentut ya fio”
Gua jawab “mata lu sowek emang ada kentut pake suara cewe?
Kebo pun menjawab “itu si suara mis kunti?

Cecep dan julung langsung jawab bersamaan “apa? Miss kunti mana??
Kebo “tu dibelakang lu?
Kami ber empat pun mundur sambil gemetar nie badan dalam hati gua kaya nie setan yang ada di luar tadi.
Dan tiba tiba gua inget dengan cewe yang kecelakaan tadi, gua pura pura berani dan tanya tu setan “kamu mau pa? pa yang mau kamu cari pada kami?
Tu kunti gagk jawab tapi Cuma nunjuk jarinya ke arah gua.
Gua pun bingung. Taman gua yang namanya cecep bilang “mungkin tu kunti suka elu sob?
“lu jangan ngawur ya kalau bicara? 
Buktinya tu dia nunjuk elu.
Kebo ikut bicara “mungkin tu kunti minta utangnya elu bayar , elukan suka hutang duit.
“woi, enak aja gua gagk pernah hutang uang ke setan ya.
Cecep bilang “udah sob lu pacarin aja lumayan kan akhirnya ada cewe yang suka sama elu, daripada gagk ada sikat aja sob.
“gila lu, lu mau gua mati emang gagk ada cewe lain apa?
Dan tiba tiba tu kunti ketawa cekikan yang membuat keringat dingin gua makin keluar , waduh gawat nie gua coba cari barang buat di lempar ke tu kunti kalau sewaktu waktu menyerang.
Akhirnya tu kunti bicara, “Mas kamu bilang tadi kalau kamu mau jadi pendamping saya, yuk mas kita pergi.
Gua jawab “apa lu kata? Lu udah jadi setan hoi, gua masih pengen idup besok gua ada ujian gua gagk mau mati dulu

Dan wajah kunti itupun tiba tiba menjadi seolah marah sambil ketawa cekikikan dia mendekat ke gua, 
Lalu gua keingat guru ngaji gua kalau gagk hafal ayat kursi mending ngelempar suatu benda sambil ngucapin basmalah dan gua lakuin itu dan untungnya gua berhasil.
Alhamdulillah ,, dan waktu gua lihat teman teman gua sialan mereka udah pingsan duluan ,, emang pengecut tu anak anak,
Keesokan harinya gua ditanya sama mereka “lu gimana kemarin cara ngusir tu kunti, lu kan gagk bisa baca ayat kursi?
Gua jawab “allah masih melindungiku sob.
Semenjak itu gua sekarang rajin sholat dan belajar ngehafalin ayat kursi walaupun gua belum bisa juga sampe sekarang.

Hantu Gentayangan, sangat Menyeramkan

Cerita ini berawal sekitar tahun 1998 di kota Jepara, sewaktu Rudi bekerja di sebuah PTS di kota Kudus. Dia sebagai staf kantor. Kebetulan karena belum mendapatkan tempat kos, Rudi disarankan atasannya tinggal di kantor. Ada 2 kamar yang bisa dipakai, selain kamar yang ditempatinya bersama teman sekerja, Kasno, kamar satunya dipakai Bu Isa, tukang bersih-bersih kantor.

Hari pertama tidur di mes, tahu-tahu Rudi sudah mengalami kejadian aneh. Waktu tengah malam dia mendengar langkah kaki berat berjalan dan seperti berdiri di depan kamar. Disusul suara seperti orang berdehem. Membuat malam itu terasa gerah.

Pagi harinya ketika kejadian semalam ditanyakan bu Isa dan dan Kasno jawabannya ternyata pendek saja, “Oh, Pakdhenya datang,” komentar mereka. Hari berikutnya terus terjadi keanehan yang sama, ketika ditanyakan

Kasno setengah mendesak, dengan enteng dijawab yang disebut Pakdhe itu genderuwo! Spontan Rudi kaget mendengar nama genderuwo.

Malam berikutnya, sekitar jam 02.00 Rudi tidur di luar karena di dalam terasa panas. Waktu tidur dia diganggu suara besi di pukul-pukul “teng teng teng” membuatnya terbangun untuk mencari asal suara tersebut. Sepertinya suara di lantai 2, sehingga dia menuju arah suara tersebut.

Tepat di pojok ruang di bawah remang-remang lampu dilihatnya sebentuk warna putih tegak sedang berdiri. Penasaran dengan apa yang dilihatnya, sosok itu didekati, setelah jelas Rudi langsung berjingkat. Sosok yang ada dihadapannya itu ternyata pocongan ! Terlihat jelas sosok itu menatap ke arahnya.

Spontan Rudi lari terbirit-birit masuk kamar. Aku melihat sebentuk pocongan anak-anak tapi lama kelamaan menjadi besar. Benar-benar gila,” ujarnya kepada Kasno. Jawaban tentang hantu-hantu yang tiap malam berkelana dalam kantor, baru dapat ditemukan pada esok harinya.

Saat jalan di belakang gedung sekolah dia melihat di tengah lapangan yang di paving ada cekungan yang berderet-deret sejajar. Dia lalu bertanya pada Bu Isa, barulah ditemukan jawaban jelas, jika gedung sekolah yang dihuni sebelumnya bekas tanah pemakaman. Bu Isa dan Kasno sendiri sudah terbiasa tinggal di tempat itu, sehingga tidak begitu mengubris kalaupun ada kejadian aneh.

Setelah mendengar penuturan itu sekujur tubuh Rudi langsung lemas. Dia tidak mampu berbuat apa-apa karena kenyatannya lahan kuburan telah berganti gedung sekolah yang megah. Menurut penuturannya hantu-hantu itu sampai sekarang masih bergentayangan. Namun, dia sudah lama tidak bekerja di sekolahan itu lagi.

Penampakan Pak Tua dengan Sepedanya

Sore itu sekitar pukul setengah enam sore aku baru saja pulang dari kantor, melaju sendirian menggunakan motor matic kesayangan entah kenapa selama dalam perjalanan menuju rumah perasaan ini sepertinya enggak enak banget, namun aku coba buang jauh – jauh perasaan itu lantaran aku fikir mungkin akibat aku terlalu capek bekerja sehingga banyak perasaan aneh yang menggelayut diotaku.

Sekitar enam kilo meter sudah perjalan sore itu aku tempuh dengan rata – rata kecepatan sepeda motor yang aku kendarai sekitar 60 km/jam dan selama dalam perjalanan itu pikiranku selalu kemana – mana entah kenapa perasaan ini tidak menentu sehingga pas melewat di depan sebuah rumah makan aku tidak sempat mengerem laju motorku saat seorang bapak tua yang mengayuh sepeda menyeberang jalan secara mendadak membuat aku tidak punya ruang yang cukup untuk menghindar.

Brak... terasa sekali hantaman sepeda motorku menabrak si Bapak itu aku pun menjerit sekeras – kerasnya kemudian serasa gelap di kedua pelupuk mataku namun untungnya saat itu tubuhku terpental ke bahu jalan dan masih aku ingat beberapa pengendara lain yang ada di belakangku sempat menolong dengan membopong tubuhku ke tempat yang aman.

Aku pun tidak mengalami luka serius hanya di bagian pergelangan kaki saja yang sedikit luka serta sedikit terasa lega setelah aku lihat si Bapak yang aku tabrak tidak mengalami luka sedikit pun kemudian dia pun sempat menghampiri meminta maaf kepadaku “maaf neng da sepeda mah tidak ada kaca spionnya”, itulah kata – kata yang di ucapkan si Bapak tua itu.

Namun setelah itu dalam sekejap mata aku tidak melihat keberadaan si bapak yang tertabrak tadi, kemana perginya dia aku hanya terdiam sambil menahan rasa nyeri di kaki serta mual serasa ingin muntah, yah sudahlah aku pun tidak terlalu memikirkannya yang penting aku telah mengetahui bahwa dia tidak kenapa – napa walau pun sedikit menyesal lantaran aku belum sempat meminta maaf padanya.

Setelah beberapa saat ada dari di antara warga sekitar yang telah berbaik hati ikut menolong  menawarkan jasa untuk mengantarkan aku pulang mungkin lantaran mereka tidak tega melihat keadaanku dan juga waktu saat itu telah beranjak Magrib

Lima bulan sudah sejak kejadian itu bahkan aku pun sudah melupakannya lantaran untuk apa aku mengingat – ingat kejadian itu hanya saja kini aku lebih berhati – hati jika mengendari sepeda motor di jalan raya.

Sore itu kami berhamburan menuju rumah bibi setelah kami sekeluarga mendengar kabar bibiku pengalami kecelakaan, aku lihat bibi sedang di kerumuni para tetangga yang menjenguk di rumahnya masih untung bibi pun tidak mengalami luka serius hanya sepeda motornya saja yang kondisinya rusak berat.

Dia mengalami kecelakaan sepeda motor di tempat serupa dengan yang aku alami lima bulan yang lalu bahkan waktunya pun sama yaitu menjelang maghrib, katanya dia telah menabrak seorang Bapak tua pengendara sepeda yang menyebrang jalan secara mendadak dan anehnya orang yang tertabrak itu tidak mengalami luka sedikit pun bahkan dia sempat meminta maaf juga kepada bibi dengan kata – kata yang sama ( maaf neng da sepeda mah tidak ada kaca spionnya ) kemudian setelah meminta maaf kepada bibi si Bapak Misterius itu pun tidak ada yang mengetahui kemana perginya.

Saat Datang Cepat Ke Sekolah

Pagi itu saya berangkat ke sekolah agak cepat sekitar pukul 6:15 karena banyak tugas yang belum kelar, bukan PR tapi semacam proposal karena saya salah satu pengurus OSIS. Saat tiba di sekolah suasananya masih sangat sepi, belum ada anak-anak yang datang. Pagi itu pun cuacanya mendung dan gerimis, saya pun bergegas menuju kelas, dan dari kejauhan saya melihat siswa perempuan lagi duduk2 di taman samping kelas. Dalam hati "Yes.. ada kawan datang cepat juga :D "

"Eh.. kamu Dinda, cepat juga yah datangnya" sapaku.
"Ia Wik dah biasa pun", sambil senyum terpaksa.
"Ngapain duduk disini kan gerimis, yuk Din ke kelas".
"Jangan Wik, jangan masuk ke kelas dulu, tunggu anak2 ramai datang", Dinda berusaha mencegatku dan mukanya kelihatan pucat, kaki tangannya pun gemetaran gitu.
"Memang kenapa Din?" tanyaku.
"Gpp Wik, tadi pas aku masuk kelas kayak ada sesuatu gitu, sebaiknya kamu jangan masuk dulu sendiri".
"Oh.. baiklah, tapi aku masukin tas dulu ya. Nanti aku kesini lagi".

Tiba di kelas saya agak sedikit kaget karena semua meja dan kursi pada berantakan bahkan di pojok belakang ada meja yang dinaikan ke meja lain tapi modelnya kedua sisi meja tersebut yang berhimpitan. "Gila ne kelas, siapa sih anak2 yang iseng ginian" pikirku dalam hati. Tapi sepertinya semalam pas pulang sekolah baik2 aja deh dan ni kelas dikunci sama penjaga sekolah.

Saya pun cuek aja, sambil membenarkan meja dan kursi saya yang juga ikut berantakan soalnya saya harus menyelesaikan proposal dana untuk perayaan Maulid di sekolah, Dinda pun saya abaikan. Asik-asiknya menulis tiba-tiba aja suasana di kelas terasa aneh, kadang tercium aroma daun pandan dan wewangian yang begitu menyengat, saya pun masih tetap cuek dan biasa aja.

Namun tiba-tiba dari belakang terdengar suara meja digeser dan itu terjadi sangat keras dan cepat. Pas saya menoleh kebelakang tidak ada apa2, tidak ada orang, dan meja kursi pun masih diposisi semula. Saya pun agak takut juga jadinya dan bergegas ke luar kelas menjumpai Dinda.

"Din, maksud kamu tadi melihat sesuatu itu apa sih, ga ada apa2 kok. Yok temani aku dikelas, banyak tugas nih" saya mencoba tetap tenang dan tidak menceritakan ke Dinda apa yang barusan saya alami. "Jangan dulu Wik, nanti aja tunggu anak2 ramai. Tadi pas aku masuk kelas sendiri, saya melihat meja dan kursi melayang-layang gitu, saya mencoba teriak dan berlari dari situ tapi ga bisa. Agak lama tadi saya ketakutan di kelas sendiri". Dinda memang sering ngalami hal2 aneh di sekolah dan dia sangat sering kesurupan. "Ohh.. jadi kelas berantakan tadi apa karena.." jawabku dalam hati.

Sekitar 20 menit kemudian suasana sekolah sudah agak ramai dan terlihat cuma Candra dan Firman teman sekelas kami yang baru datang. "Din, yuk masuk kelas. Tuh Candra dan Firman dah datang, gerimis nih". Akhirnya Dinda pun setuju dan barengan masuk ke kelas. Namun tiba-tiba belum sempat Dinda meletakkan tasnya dia terlihat bersikap aneh, seperti orang ketakutan karena melihat sesuatu yang mengerikan gitu. Mukanya pucat, matanya agak melotot dan sambil berjalan mundur menuju pintu kelas.

"Din kamu kenapa?" tanyaku.
"Ayo keluar, tolong bawa keluar aku dari sini".
"Kenapa Din, kamu liat apa?" tanyaku. Firman dan Candra kelihatan heran.
"Wik.. tolong pegang tanganku, aku mau jatuh ga kuat berdiri nih. Ayok kita keluar dari sini" pinta Dinda.
Dia pun terlihat pucat dan lemas sekali. Aku pun bergegas memegang tangan Dinda dan Candra pun aku minta bantu. Namun sikap Dinda makin aneh, dia berteriak-teriak gitu dan tangannya sangat dingin.

"Firman.. jangan disitu..!! dia ada disebelahmu, perempuan itu ada disebelahmu" teriak Dinda. Sontak Firman yang lagi duduk santai di pojok kelas terlihat ketakutan. Dinda pun makin menjadi-jadi dia berteriak ga karu2an gitu dan akhirnya pingsan. Kami bertiga pun kebingungan dan karena takut juga kami putuskan membawa Dinda ke rumah penjaga sekolah karena kantor guru belum buka, masih terlalu pagi.

Setelah Dinda siuman dan keadaan normal kembali, Firman bertanya apa yang dialami Dinda tadi. Cerita Dindapun membuat bulu kuduk ku berdiri, dia mengatakan pas didalam kelas tadi dia melihat seorang wanita yang berpakaian putih, rambutnya panjang dan agak acak2kan gitu, makhluk itu duduk diatas meja pojok belakang tepat di dekat Firman tadi.

Dinda juga mengatakan ketika makhluk itu berdiri dan hendak mendatanginya, bentuknya seram sekali seperti kuntilanak tapi berbadan besar bahkan makhluk tersebut sedikit menunduk ketika hendak mendekatinya dan pundak dari makhluk itu menyentuh langit-langit kelas kami.

Saya pun benar2 ketakutan ketika membayangkan apa yang diceritakan Dinda dengan hal2 aneh yang saya alami dikelas tadi.

Perkemahan Di Sekolah

Waktu itu gue ada acara pramuka, yaitu kemah. Kemah gue bukan di hutan, tapi di sekolahan gue sendiri. Awalnya pas gue datang sore-sore, gue biasa aja, gak ada tuh rasa takut. Tapi pas malam tiba dan sessi terakhir, kebetulan sessi terakhir itu di aula (niatnya di lapangan gak jadi karena hujan, dan tenda dipindah di kelas2 karena hujan dan banjir). Kebetulan aula sekolahan gue itu terkenal angker, apalagi dibelakang aula.

Sessi terakhir waktu itu semua lampu dimatikan, gue udah merasa aneh. Tapi gue gak merasa takut karena gue sama sahabat gue namanya Via, dia punya kemampuan untuk melihat apa yang kagak bisa gue lihat, karena Via bilang asal gue gak ganggu "dia", "dia" juga gak akan ganggu gue. Tapi tiba-tiba gue denger teman gue cewek namanya Nasya, dia nangis-nangis sambil ngedempet diantara teman-teman (posisi Nasya saat itu dibelakang gue persis). Lalu gue tanyakan pada Mara, teman dekat Nasya

Gue : Nasya kenapa?
Mara: Dia nekat buka batinnya, jadi ngeliat
Gue: Masa? siapa yang bukain batinnya?
Mara : Iya, si Joko (indigo) yang bukain. Katanya di depan pintu ada cewek tinggi hampir 2 meter melototin dia.

Karena penasaran gue tanyakan pada Via.
Gue : Vi, beneran gak sih ada cewek didepan
Via : Iya, cewek Belanda. Tapi gak papa, dia gak ganggu, cuma tertarik gara-gara disini ramai.
Gue: Beneran nih gapapa?
Via : Gapapa. kamu doa aja Von.

Setelah itu gue terus berdoa dalam hati.
Malam semakin larut, acara sessi berlanjut. Sessi kali ini sessi menceritakan tentang kejadian menyeramkan oleh panitia. Lampu dimatikan, dan hanya menyalakan 1 lilin. Tiba-tiba seorang temanku datang dari luar namanya Desi, dia kelihatan habis menangis. Tiba-tiba saja Desi berteriak "Lampunya nyalakan! jangan dimatikan! mereka bakalan tambah banyak! jangan dimatikan lampunya, nyalakan!". Setelah berteriak begitu, panitia menjadi panik, teman-teman juga panik dan bingung dengan perkataan Desi. Tapi kemudian Desi dibawa pergi dari aula.

Setelah itu keadaan kembali tenang. Tapi teman-teman sekitarku berkata bahwa panitia menyembunyikan sesuatu. Acarapun dilanjutkan. Saat panitia akan mengumumkan sesuatu melalui pengeras suara, tiba-tiba terdengar bunyi jeritan wanita. Sesaat kami (aku, Via dan lainnya) mengira itu adalah efek berdecit dari pengeras suara, tapi setelah itu disusul jeritan dari salah seorang teman yang duduk agak jauh dariku, ternyata dia menjerit karena teman sebelahnya (namanya Fany) kerasukan. Fany sudah meraung di lantai, menjerit dan menangis. Setelah itu disusul dengan raungan teman sebelah gue yang terus merembet ke anak-anak lain, hampir seperempat anak kelas 1 kerasukan.

Panitia segera mengungsikan anak-anak yang belum kerasukan ke kelas2, termaksud aku. Aku, Via dan beberapa teman cewek lainnya diungsikan ke kelas 3 IPA. Tiba-tiba Asti, salah seorang teman gue memeluk gue dan menangis. Awalnya gue sempat mengira dia kerasukan, tapi ternyata tidak. Asti hanya "diperlihatkan" oleh "mereka". Katanya sungguh menakutkan, dia diperlihatan oleh mbak kunti tapi memiliki wajah yang menyeramkan. Via menenangkan Asti. Kemudian Via bercerita pada aku dan Asti.

"Kalian gak usah takut, `mereka` yang disini tidak mengganggu kita, hanya saja yang mengganggu adalah `mereka` dari tempat sebelah sekolah kita, karena kita terlalu ribut. `Mereka` merasa terganggu dan marah. Karena itu mereka mengganggu orang yang sedang melamun atau fisiknya lemah. Karena itu jangan pernah melamun, tetap berdoa saja. Tadi `mereka` disana memang sangat banyak apalagi yang berada di panggung aula, ada beberapa yang sedang menonton kita, dan memang benar di belakang aula itu sangatlah angker, sekalipun jangan pernah masuk kedalam sana, karena yang disana bukan yang baik tapi yang nakal".

Setelah Via berkata seperti itu beberapa teman kami yang kerasukan tapi telah didoakan, ke kelas kami diantar oleh panitia. Gue tidak menyangka kalau ternyata salah seorang teman gue terkena juga, namanya Reta. Dia memang lemah fisiknya. Tapi yang paling menakutkan saat itu adalah seorang gadis yang juga didoakan, namanya Ria. Dia menatap gue dengan pandangan tajam dan menyeramkan, hingga membuat gue tak nyaman. Saat gue tanyakan pada Via, Via hanya bilang "Cuekin aja, dia masih ketempelan. Lebih baik kita tidur yuk?". Karena ketakutan aku mengikuti saran Via, gue meringkuk disamping via, walau masih merasakan tatapan Ria saat itu. Dan untunglah lama-kelamaan gue bisa tertidur hingga pagi walau merasa tak nyaman.

Baca juga :
Kumpulan Cerita Horor dan Misteri Pendek dan Menakutkan Terbaru
Cerita Horor Menyramkan dan Buat Merinding Misteri Nomor Peribadi
Cerita Horor Dari Kisah Nyata Yang Menyeramkan di Rumah Sakit